Rabu, 25 November 2015

Tugu Bundaran Kota Baru

Penampakan Bundaran Kota Baru pada sore hari. Tampak tanaman yang semakin tinggi mulai menutupi penampakan tugu.
(Foto pada 13 November 2015)
Penampakan Tugu Bundaran Kota Baru pada malam hari. (Foto pada 18 November 2015)

Di kawasan kota baru di Pontianak, terdapat sebuah bundaran dengan tugu di tengahnya. Bundaran ini menjadi persimpangan antara Jl. Sutan Syahrir, Jl. Selayar, Gg. Widodo, Jl. Prof. HM. Yamin, dan Jl. Dr. Sutomo. Secara administratif, terletak di perbatasan antara Kel. Akcaya, Kec. Pontianak Selatan dengan Kel. Sungai Bangkong, Kec. Pontianak Kota.

Tampak tugu dari dekat pada sore hari dengan air mancurnya.
(Foto pada 13 November 2015)
Tampak tugu dari dekat pada malam hari. Sayang, air mancurnya tidak nyala.
(Foto pada 18 November 2015)

Tidak diketahui jelas apa nama tugu yang menyerupai huruf Y ini. Tidak ada keterangan apapun di sekitar tugu kecuali prasasti peresmiannya yang ditandatangani oleh Walikota Pontianak H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. pada 17 Mei 2010. Di prasastinya sendiri tidak tertulis apa nama tugunya. Selain prasasti, terdapat dua buah tiang yang bergambarkan logo perusahaan Holcim yang menandakan tugu tersebut dibangun oleh perusahaan tersebut. Holcim merupakan peruasahan yang berasal dari Swiss, yang dikenal sebagai salah satu perusahaan besar yang memproduksi semen. Di Indonesia, perusahaan tersebut bernama resmi "PT Holcim Indonesia, Tbk.".

Prasasti peresmian tugu, namun tidak tertulis apa nama tugu tersebut.
(Foto pada 13 November 2015)

Sebelum dibangun tugu, bundaran tersebut hanyalah bundaran biasa dengan tanaman seadanya. Ketika diresmikan pada tahun 2010, tugu tersebut tidak berwarna biru seperti sekarang. Pada awalnya, tugu tersebut berwarna putih dengan tulisan "PONTIANAK 1771" berwarna keemasan. Pada tahun 2012, entah dengan alasan apa, tugu tersebut dicat ulang sehingga berwarna biru dengan tulisan berwarna merah. Terakhir, saya lupa kapan, tugu tersebut dihias dengan beberapa untaian lampu.

Bola di tengah tugu dari dekat. Tali/untaian lampunya agak merusak pemandangan, menurutku pribadi.
(Foto pada 13 November 2015)

Mengenai simbolisme tugu tersebut, menurut pengamatan saya pribadi, bentuk huruf Y menyimbolkan kondisi geografis Kota Pontianak yang dibelah oleh persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Bentuk bola di bagian tengah jika dilihat dengan saksama tampak menyerupai motif corak insang, motif kain khas Melayu Pontianak. Di tengah bola terdapat tulisan "PONTIANAK 1771", melambangkan Kota Pontianak lahir pada tahun 1771.

Sebagai pecinta monumen, keberadaan tugu tersebut menurutku, tentu akan sangat menambah keindahan wajah Kota Pontianak. Apalagi dengan bentuk yang khas, tentu bisa menjadi salah satu ciri khas wajah Kota Pontianak. Namun sayangnya, keberadaan tugu tersebut masih kalah pamor dengan Tugu Khatulistiwa dan Monumen Sebelas Digulis. Beberapa hal yang menurutku perlu sedikit perbaikan, antara lain:
  • Agar tugu tersebut lebih mudah dikenal orang, ada baiknya jika diberi nama.
  • Tanaman memang sangat penting, selain memperindah, juga untuk penghijauan. Namun, penataannya perlu diperhatikan agar tidak menutupi tugu tersebut.
  • Untaian lampu dimaksudkan untuk memperindah, namun menurutku justru malah mengurangi keindahan tugu tersebut, Mungkin penataan lampunya perlu diperbaiki.
  • Untuk sentiasa tampak indah, ada baiknya jika air mancur di sekitar tugu lebih sering dinyalakan. Seringkali saya lewat, namun air mancurnya mati.
  • Kebersihan juga perlu dijaga karena terkadang saya melihat sampah berceceran di trotoar sekitar tugu akibat ulah orang yang tak bertanggung jawab.
Semoga di masa yang akan datang, tugu ini bisa menjadi ikon baru Kota Pontianak, mendampingi Tugu Khatulistiwa dan Monumen Sebelas Digulis.

Penampakan dari sudut berbeda. Tampak Rumah Radakng di belakang.
(Foto pada 13 November 2015)
Penampakan dari sudut lain. (13 November 2015)
Penampakan pada malam hari dari jarak agak jauh. (18 November 2015)

Kamis, 19 November 2015

Pahlawan Nasional 2015

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November 2015, Presiden Ir. H. Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 5 (lima) orang tokoh nasional. Dengan demikian, Indonesia kini memiliki 168 Pahlawan Nasional. Berikut ini kelima orang tersebut.

Pahlawan Nasional 2015

Bernard Wilhem Lapian (1892–1977)
B.W. Lapian merupakan tokoh pejuang asal Minahasa, Sulawesi Utara. Ia berjuang di berbagai bidang, dari jurnalisme, agama, hingga politik, dan di berbagai zaman, dari zaman Belanda, Jepang, hingga kemerdekaan. Saat bekerja di Batavia, B.W. Lapian menulis artikel di surat kabar yang memacu nasionalisme. Ia juga dikenal sebagai salah satu pendiri Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) pada tahun 1933, sebagai Gereja yang mandiri dan independen, yang tidak dipengaruhi dan tidak bergantung pada Hindia Belanda. Di era Revolusi Kemerdekaan, ia dijebloskan ke penjara oleh Belanda karena menolak kembalinya Belanda di Manado, dan baru dibebaskan pada 1949 setelah pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Belanda. Ia kemudian dipercaya untuk menjabat Gubernur Sulawesi pada tahun 1950 hingga 1951. Atas sumbangsihnya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Pratama pada tahun 1975 oleh Presiden Soeharto.

Mayjen TNI Mas Isman (1924–1982)
Mas Isman merupakan tokoh pejuang kelahiran Bondowoso, Jawa Timur. Di masa revolusi kemerdekaan tahun 1945, ia bergabung ke Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal bakal TNI. Setelah masa revolusi, Mas Isman terus berkontribusi bagi pembangunan di bidang pemberdayaan masyarakat, pendidikan, dan kemanusiaan. Di bidang politik, ia sempat dipercaya sebagai duta Indonesia untuk PBB (1958), Myanmar (1959), Thailand (1960–1964), dan Mesir (1964–1967). Ia juga sempat menjadi anggota DPR-RI pada tahun 1978 hingga akhir hayatnya. Salah satu peninggalan Mas Isman yang masih bertahan hingga kini adalah KOSGORO, organisasi yang berawal dari koperasi yang kemudian berkembang menjadi ormas yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Komjen Pol. Dr. H. Moehammad Jasin (1920–2012) 
Di masa Jepang, M. Jasin merupakan komandan kesatuan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) bentukan Jepang di Surabaya. Setelah Republik Indonesia lahir pada tahun 1945, ia meproklamasikan satuan yang dipimpinnya sebagai bagian dari Kepolisian Indonesia, lepas dari pengaruh Jepang, bahkan memimpin pasukannya untuk melucuti senjata tentara Jepang. Kesatuan yang dipimpinnya kemudian bermetamorfosis menjadi satuan Brigade Mobil (Brimob) pada tahun 1946. Kegigihan M. Jasin membentuk Brimob kemudian membuatnya dikenang sebagai Bapak Brimob Polri. Di luar lingkungan kepolisian, M. Jasin pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), anggota MPR, serta Dubes RI untuk Tanzania. Ia wafat di RS Polri Kramat Jati, Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata. Moehammad Jasin merupakan Pahlawan Nasional kedua yang berlatar belakang kepolisian setelah Aipda Karel Satsuit Tubun. Meskipun kelahiran Baubau, Sulawesi Tenggara, perjuangan M. Jasin yang sangat berpengaruh di Surabaya menjadikannya Pahlawan yang diajukan oleh Jawa Timur.

I Gusti Ngurah Made Agung (1876–1906)  
I Gusti Ngurah Made Agung merupakan Raja ke-VII Kerajaan Badung di Denpasar, Bali, yang naik takhta pada tahun 1902. Selain sebagai Raja, ia juga seorang sastrawan yang banyak mengeluarkan karya sastra yang membangkitkan semangat perjuangan rakyat menentang pengaruh kekuasaan Hindia Belanda di Bali. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melancarkan serangan militer pada tahun 1906. Raja I Gusti Ngurah Made Agung yang memimpin perang melawan Belanda kemudian gugur dalam medan peperangan yang dikenal dengan Puputan Badung itu. I Gusti Ngurah Made Agung merupakan Pahlawan Nasional ke-5 yang berasal dari Bali.

Ki Bagus Hadikusumo (1890–1954)
Ki Bagus Hadikusumo merupakan tokoh Muhammadiyah di Yogyakarta yang kemudian menjadi Ketua Muhammadiyah pada tahun 1942 hingga 1953. Ia turut berjuang mencapai kemerdekaan Indonesia di dalam BPUPKI yang kemudian menjadi PPKI. Di dalam badan itu, ia berperan menyumbangkan pikirannya dalam merumuskan Pembukaan UUD 1945. Setelah kemerdekaan dicapai, ia terus menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi negara, baik melalui berbagai karya tulis, maupun melalui lembaga formal dengan menjadi anggota DPR mewakili Masyumi.

Senin, 09 November 2015

Pilgub Serentak 2015

Satu bulan lagi, Indonesia akan menggelar Pilkada Serentak, tepatnya pada 9 Desember 2015. Di tingkat provinsi, terdapat sembilan provinsi yang akan menggelar Pilgub: empat di kawasan Sumatera, tiga di Kalimantan, dan dua di Sulawesi. Sebanyak 21 pasang calon turut meramaikan Pilgub di sembilan provinsi tersebut.

Dari segi partai politik, gabungan partai sangat mendominasi dukungan calon. Hanya ada satu pasangan yang menempuh jalur perseorangan. Dan hanya dua pasangan yang dicalonkan oleh satu partai tanpa koalisi, dan keduanya masing-masing diusung oleh PDI-P.

Di tingkat Pilgub, tidak ada partai yang mengusung calon di seluruh provinsi. PDI-P dan Hanura menjadi partai yang terbanyak mengusung cagub/cawagub, yakni di delapan provinsi. Sementara Golkar yang paling sedikit, hanya di dua provinsi.

Berikut adalah daftar para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur besera beberapa hal yang menarik menurutku.

Provinsi yang menyelenggarakan Pilgub Serentak 2015 (warna jingga).


Provinsi Sumatera Barat


Seperti yang umum terjadi di Indonesia, terjadi pecah kongsi antara gubernur dengan wakilnya di Sumbar. Pilgub Sumbar pun menyaksikan pertandingan langsung antara Gubernur petahana Irwan Prayitno melawan Wagub petahana Muslim Kasim. Uniknya lagi, Muslim Kasim yang maju sebagai cagub menggandeng mantan Walikota Padang Fauzi Bahar sebagai wakilnya, yang merupakan salah satu cagub penantang pasangan Irwan-Kasim pada Pilgub 2010. Manakala Irwan Prayitno menggandeng Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit.

Selain kedua pasang calon tersebut, sebelumnya sempat muncul nama pasangan Shadiq Pasadigoe dan Syamsu Rahim yang diusung koalisi Golkar, PPP, dan NasDem. Namun, akibat dualisme internal di Golkar dan PPP, kesepakatan koalisi akhirnya tidak dapat tercapai. Golkar, PPP, dan NasDem kemudian mengalihkan dukungan ke duet Kasim-Bahar. Namun, berbeda dengan NasDem, dualisme kepengurusan menyebabkan Golkar dan PPP terlambat melengkapi berkas dukungannya, sehingga dukungan Golkar dan PPP ke Kasim-Bahar ditolak oleh KPU. Selain Golkar dan PPP, Partai Demokrat juga mengalami nasib serupa. Dukungan Demokrat ke Kasim-Bahar juga ditolak KPU karena menyerahkan berkas dukungan setelah masa pendaftaran ditutup.


Provinsi Jambi


Di Jambi, pecah kongsi gubernur dan wakilnya juga terjadi. Bedanya, Wagub petahana Fachrori Umar tidak menantang Hasan Basri Agus sebagai sesama cagub, melainkan tetap menjadi cawagub, namun berpasangan dengan cagub Zumi Zola Zulkifli yang merupakan Bupati Tanjung Jabung Timur. Zumi Zola sendiri merupakan putra dari mantan Gubernur Jambi (Alm.) Zulkifli Nurdin.

Pilgub Jambi agak berbeda dengan Pilgub lainnya karena terdapat calon termuda dari seluruh cagub/cawagub yang ada. Zumi Zola Zulkifli yang berumur 35 tahun merupakan cagub termuda, sementara Edi Purwanto yang juga berumur 35 tahun (tiga bulan lebih muda dibandingkan Zumi Zola) merupakan cawagub termuda.


Provinsi Bengkulu


Di Bengkulu, gubernur petahana Zunaidi Hamsyah yang sebelumnya ingin maju lagi akhirnya mengurungkan niatnya akibat kasus hukum yang menimpanya. Wagub petahana Sultan B Najamudin pun maju sebagai cagub menggandeng Anggota DPRD Mujiono. Sultan B Najamudin merupakan adik dari Agusrin M Najamudin, mantan Gubernur Bengkulu yang pada 2012 lalu divonis 4 tahun penjara akibat kasus korupsi APBD dan PBB yang menimpanya.

Sultan-Mujiono ditantang secara langsung oleh pasangan Ridwan Mukti dan Rohidin Mersyah, yang masing-masing merupakan Bupati Musi Rawas dan Wakil Bupati Bengkulu Selatan. Musi Rawas merupakan kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu.

Selain kedua pasangan tersebut, terdapat pula pasangan Ichwan Yunus dan Rahmat Elfi yang mendaftar di jalur perseorangan. Namun pendaftaran mereka digugurkan KPU karena berdasarkan verifikasi, jumlah dukungan yang diajukan tidak mencapai batas minimal.


Provinsi Kepulauan Riau


Lagi-lagi, pertarungan gubernur melawan wakilnya terjadi di Kepulauan Riau. Gubernur petahana Muhammad Sani ditantang langsung oleh Wagub petahana Soerya Respationo. Muhammad Sani menggandeng Bupati Karimun Nurdin Basirun. Kesan nostalgia duet Sani-Nurdin pun muncul mengingat duet ini pernah memimpin Kabupaten Karimun pada periode 2001–2005. Sementara Soerya Respationo menggandeng Bupati Bintan Ansar Ahmad untuk menjadi wakilnya.


Provinsi Kalimantan Tengah


Pilgub Kalteng 2015 merupakan satu dari dua Pilgub serentak 2015 yang tanpa petahana ataupun mantan gubernur/wagub. Gubernur petahana Agustin Teras Narang telah menjabat dua periode, sedangkan Wagub Achmad Diran gagal mendapat dukungan partai yang diperkirakan karena alasan kesukuan yang masih kental di Kalteng.

Achmad Diran pun menyatakan keluar dari partainya setelah PDI-P menjatuhkan dukungan pada Anggota DPR Willy M. Yoseph yang juga mantan Bupati Murung Raya. Willy sendiri merupakan abang kandung dari Perdie, Bupati Murung Raya saat ini. Willy menggandeng Wahyudi K. Anwar, mantan Bupati Kotawaringin Timur yang juga kader Partai NasDem. Kesediaan Wahyudi mendampingi Willy berakibat dirinya dipecat dari NasDem yang secara resmi telah mendukung calon lain.

Terdapat hal menarik, yaitu kembali bertandingnya Sugianto Sabran dan Ujang Iskandar di ranah Pilgub ini. Sebelumnya, Sugianto dan Ujang pernah saling bertanding pada Pilbup Kotawaringin Barat 2010 yang penuh kontroversi.

Pada 19 November 2015, 20 hari menjelang hari pencoblosan, KPU mendiskualifikasi pasangan Ujang Iskandar dan Jawawi sebagai tindak lanjut keputusan DKPP yang menyatakan bahwa surat dukungan dari PPP untuk pasangan Ujang-Jawawi "tidak sesuai prosedur", sehingga syarat dukungan minimal tidak tercapai. Namun, pada 8 Desember 2015, hanya sehari sebelum hari pencoblosan, PTTUN mengabulkan gugatan dari Ujang-Jawawi, menganulir putusan DKPP, serta memerintahkan KPU untuk mengembalikan status Ujang-Jawawi sebagai pasangan calon. KPU kemudian terpaksa menyatakan Pilgub Kalteng ditunda karena surat suara yang telah dicetak tidak terdapat kolom dan foto Ujang-Jawawi, sehingga harus kembali mencetak ulang surat suara dan mendistribusikannya.


Provinsi Kalimantan Selatan


Di Kalsel, gubernur petahana Rudy Arifin tidak dapat lagi mencalonkan diri karena sudah dua periode. Uniknya, wagub petahana Rudy Resnawan tidak maju sebagai cagub, namun tetap sebagai cawagub, berpasangan dengan Sahbirin Noor.

Mantan Bupati Tanah Bumbu Zairullah Azhar kembali berlaga di Pilgub kali ini, setelah sebelumnya sempat kalah di Pilgub Kalsel 2010. Kali ini, ia berpasangan dengan mantan Bupati Hulu Sungai Selatan Muhammad Sapi'i.

Pilgub di Kalsel memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya Pilgub yang terdapat calon perseorangan, yaitu pasangan Muhidin-Farid.


Provinsi Kalimantan Utara


Pilgub Kaltara 2015 merupakan pilgub pertama yang diselenggarakan Provinsi Kalimantan Utara, provinsi termuda di Indonesia yang baru terbentuk tahun 2013. Meski tidak ada calon petahana, terdapat cagub Irianto Lambrie yang merupakan mantan Pj. Gubernur Kaltara. Ia ditantang oleh Jusuf SK, mantan Walikota Tarakan yang menggandeng mantan Bupati Malinau Marthin Billa. Keduanya merupakan tokoh yang dikenal memperjuangkan terbentuknya Provinsi Kalimantan Utara.


Provinsi Sulawesi Utara


Dibanding cagub/cawagub provinsi lain, cagub/cawagub di Sulawesi Utara memiliki latar belakang yang beragam. Ada duet legislator pusat-daerah, Olly-Steven. Kemudian Maya Rumantir yang berlatar artis berpasangan dengan Glenny Kairupan, purnawirawan TNI-AD. Terakhir, ada purnawirawan polisi Benny Jozua Mamoto yang berdampingan dengan mantan Bupati Gorontalo David Bobihoe Akib. Seperti Kalsel, tidak ada calon petahana ataupun mantan gubernur/wagub di Pilgub Sulut.

Sebelumnya, koalisi Golkar, PKS, dan PKPI mengusung pasangan Elly Engelbert Lasut dan David Bobihoe Akib. Namun, Elly Lasut dinyatakan tidak memenuhi syarat karena status hukumnya yang masih bebas bersyarat. Elly Lasut pada tahun 2011 divonis 7 tahun penjara akibat kasus korupsi ketika menjabat Bupati Kepualauan Talaud, kemudian dibebaskan bersyarat pada tahun 2014. Setelah disengketakan di Bawaslu, Bawaslu kemudian memutuskan Elly Lasut tetap tidak memenuhi syarat, namun koalisi Golkar, PKS, dan PKPI berhak mengajukan calon pengganti. Akhirnua, Benny Jozua Mamoto yang diusung sebagai cagub menggantikan Elly Lasut.


Provinsi Sulawesi Tengah


Pasangan petahana Longki-Sudarto yang kembali berpasangan menjadi keunikan sendiri di Sulawesi Tengah dan satu-satunya Pilgub yang pasangan petahananya tidak pecah kongsi dan kembali maju bersama. Pasangan petahana ini ditantang oleh Walikota Palu Rusdi Mastura yang menggandeng Ihwan Datu Adam, mantan Wabup Penajam Paser Utara di Kaltim yang juga mantan Anggota DPRD Kaltim.


Penutup

Sembilan dari 34 provinsi yang ada memang bukan jumlah signifikan. Namun untuk Pilkada serentak yang pertama kali diselenggarakan, sembilan provinsi ini sudah sepatutnya menjadi awal dan contoh Pilgub yang tertib, aman, dan damai, agar dapat menjadi panutan untuk menyukseskan Pilkada Serentak di tahun-tahun mendatang. Siapapun yang terpilih, itulah yang diinginkan rakyat dan harus dihormati.

Akhir kata, saya memohon maaf dan mohon koreksinya jika terdapat kesalahan informasi.

Sabtu, 07 November 2015

Pilkada Serentak di Kalimantan Barat 2015

Satu bulan lagi, Pilkada serentak akan digelar di Indonesia. Khusus di Provinsi Kalimantan Barat, terdapat tujuh kabupaten yang akan menyelenggarakan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati yang diramaikan oleh 20 pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Dari sisi jenis kelamin, masih terlihat dominasi kaum pria, sebab dari 40 orang calon, hanya terdapat 3 calon perempuan, itupun hanya terdapat di Kabupaten Sambas.

Dari sisi agama yang dianut tampak lebih beragam. Sebanyak 21 calon beragama Islam, disusul 13 calon Kristen Katolik, dan 6 calon Kristen Protestan. Seperti pilkada-pilkada sebelumnya di Kalbar, pasangan calon Muslim-Kristen atau sebaliknya masih menjadi strategi primadona dalam mendulang dukungan luas. Tercatat ada 11 pasang calon yang merupakan pasangan Kristen-Muslim atau sebaliknya, diikuti 5 pasangan Muslim-Muslim, dan 4 pasangan Kristen-Kristen (Katolik ataupun Protestan).

Dari sisi partai politik, calon yang diusung gabungan partai masih mendominasi. Hanya satu pasang calon yang diusung satu parpol tanpa koalisi dan hanya terdapat empat pasangan calon perseorangan.

Dari 12 parpol peserta Pemilu 2014, hanya lima parpol tampil di seluruh kabupaten, yaitu Partai NasDem, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, PAN, dan Partai Hanura. Manakala PBB menjadi partai yang paling sedikit mengusung calon, yakni hanya di Kab. Sambas. Perpecahan internal yang melanda Partai Golkar dan PPP juga berdampak pada minimnya kepesertaan kedua partai tersebut di Pilkada.

Berikut ini adalah daftar pasangan calon di tujuh kabupaten di Kalimantan Barat dan beberapa hal yang menarik menurutku.

Kabupaten di Kalimantan Barat yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2015 (warna jingga).


Kabupaten Sambas


Pilbup Sambas menyaksikan pertandingan tiga penjuru. Cabup petahana Juliarti ditantang dua calon, satu dari jalur perseorangan dan satu lagi dari partai politik. Dengan alasan yang tak kuketahui, Juliarti pecah kongsi dengan wabupnya Pabali Musa yang tidak lagi ikut berkompetisi dalam Pilbup ini. Juliarti kini memilih berpasangan dengan Hasanusi yang merupakan salah satu penantangnya pada Pilbup 2011 dulu.

Hal lain yang menurutku menarik, meskipun mencalonkan diri melalui jalur perseorangan, pasangan Tony-Eka tidak sepenuhnya independen dari partai politik. Tony Kurniadi sebelumnya merupakan anggota DPRD Kalbar dari PAN, sedangkan Eka Nurhayati sebelumnya berkiprah di Partai NasDem. Baik PAN maupun NasDem pada pilbup ini mengusung pasangan Juliarti-Hasanusi.

Hal menarik lainnya di Pilbup Sambas adalah hadirnya figur perempuan di setiap pasangan calon. Hal ini juga menjadikan satu-satunya Pilbup di Kalbar pada tahun ini yang memiliki calon perempuan.


Kabupaten Bengkayang


Di Bengkayang, Gidot-Naon yang merupakan bupati-wabup petahana maju lagi bersama-sama, sesuatu yang jarang terjadi di Indonesia. Ia ditantang langsung oleh Sebastianus Darwis, mantan Ketua DPRD Bengkayang. Pasangan Darwis-Rurakhmad merupakan satu-satunya pasangan calon di Kalbar yang diusung oleh hanya satu parpol.

Terdapat satu keunikan di Pilbup Bengkayang. Saat mendaftarkan diri ke KPU, Pasangan Gidot-Naon tidak menyertakan Partai Demokrat sebagai pengusungnya, padahal Suryadman Gidot merupakan Ketua Partai Demokrat Kalbar. Gidot sendiri memastikan didukung oleh Partai Demokrat meskipun tidak terdaftar. Dari pihak Partai Demokrat juga menyatakan telah resmi mengusung pasangan Gidot-Naon. Namun karena tidak didaftarkan ke KPU, DPP Partai Demokrat akhirnya mencopot Suryadman Gidot dari jabatan Ketua Demokrat Kalbar, mencabut dukungannya, serta menyatakan mengalihkan dukungan kepada pasangan Darwis-Rurakhmad.


Kabupaten Sekadau


Pilbup Sekadau menyaksikan pertandingan empat penjuru yang salah satu di antaranya merupakan calon perseorangan. Meskipun perseorangan, Pensong sebelumnya pernah tercatat berkiprah di beberapa partai politik, seperti Partai MKGR pada Pemilu 1999 dan caleg Partai Gerindra pada Pemilu 2014. Pada Pilbup Sekadau 2010, ia maju sebagai cabup dengan dukungan tujuh partai (PKPI, Hanura, Patriot, Pelopor, PPRN, PPPI, dan PBR).

Di Kabupaten Sekadau, pasangan Yansen-Saharudin sempat dinyatakan tidak memenuhi syarat oleh KPU dikarenakan permasalahan keabsahan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) milik Saharudin. Yansen-Saharudin kemudian menggugat keputusan tersebut ke Panwaslu. Akhirnya Panwaslu mengabulkan gugatan tersebut dan KPU menyertakan pasangan Yansen-Saharudin sebagai calon resmi dalam Pilbup Sekadau.

Yansen Akun Effendy sendiri merupakan Bupati Sanggau periode 2003–2008. Ia pernah berkompetisi pada Pilbup Sanggau 2008 dan Pilbup Sintang 2010, namun tidak berhasil. Selain itu, Yansen merupakan satu-satunya calon yang merupakan mantan narapidana di Pilkada serentak di Kalimantan Barat tahun ini. Ia pernah divonis 1 tahun penjara pada tahun 2011 atas kasus pembelian tanah untuk Tempat Pembuangan Akhir di Kec. Meliau, Kab. Sanggau tahun 2007 yang terindikasi merugikan negara Rp 1,5 miliar.


Kabupaten Sintang


Pilbup Sintang menyaksikan pertandingan tiga penjuru. Namun yang menarik adalah kehadiran dua mantan wakil bupati, yakni Ignasius Juan (wabup 2010–2015) dan Jarot Winarno (wabup 2005–2010); bahkan keduanya merupakan wakil dari bupati yang sama, yaitu Milton Crosby, Bupati Sintang periode 2005–2015.


Kabupaten Melawi


Pilbup Melawi menyaksikan pertandingan langsung antara bupati petahana melawan wabup petahana, yakni Firman Muntaco bertanding melawan Panji. Pecah kongsi antara kepala dengan wakilnya yang berlanjut dengan majunya sang wakil menantang "atasan"-nya merupakan hal yang umum terjadi di Indonesia.

Setelah resmi diusung oleh PDI-P, Panji kemudian menanggalkan baju Golkar yang dikenakannya sejak 1999 dan bergabung ke dalam PDI-P. Hal ini, langsung atau tidak, mungkin dipengaruhi oleh dualisme kepengurusan yang melanda Partai Golkar. Dualisme tersebut juga berakibat penolakan KPU atas dukungan Partai Golkar ke pasangan Firman-John, meskipun Firman Muntaco adalah Ketua Partai Golkar Melawi (kubu Aburizal Bakrie). Dengan alasan sama pula, dukungan PPP (kubu Romahurmuziy) ke Firman-John juga ditolak KPU. Namun pasangan Firman-John tetap bisa maju karena gabungan dukungan partai-partai lain memenuhi syarat minimal.

Dadi Sunarya Usfa Yursa yang berumur 31 tahun merupakan calon termuda dari seluruh calon yang berkompetisi pada Pilkada di Kalbar tahun ini.


Kabupaten Kapuas Hulu


Pilbup Kapuas Hulu agak mirip dengan Pilbup di Sambas. Bupati petahana, A.M. Nasir berpisah dengan wakilnya dan memiliki pasangan baru, Antonius L. Ain Pamero yang merupakan salah satu pesaingnya pada pilbup sebelumnya. Wabup pertahana Agus Mulyana yang merupakan kader Golkar akhirnya memilih untuk tidak ikut berpartisipasi akibat perpecahan internal partai. Pasangan Nasir-Ain diusung koalisi tujuh parpol yang merupakan koalisi terbesar pada pilkada di Kalbar tahun ini, baik dari segi jumlah parpol, maupun dari segi persentase perolehan suara dan kursi.

Penantangnya, Fransiskus Diaan yang merupakan menantu dari Gubernur Kalimantan Barat Cornelis. Di umur 34 tahun, ia merupakan calon bupati termuda di seluruh Pilkada Kalbar tahun ini. Apalagi jika ditambah calon wakilnya Andi Aswad yang berumur 32 tahun, pasangan ini merupakan pasangan calon termuda di Kalbar jika dihitung rata-rata umur pasangan.


Kabupaten Ketapang


Dari seluruh tujuh Pilbup di Kalbar, Pilbup Ketapang bisa dibilang yang paling menarik perhatian pada masa awal tahapan pilbupnya, juga pilbup dengan beberapa rekor terbanyak. Pertama, Pilbup Ketapang diikuti dua pasangan calon perseorangan; kedua, sebanyak tujuh pasangan bakal calon mendaftar ke KPU Ketapang; dan ketiga, sebanyak tiga pasangan bakal calon digugurkan oleh KPU. Kemudian, Andi Djamiruddin yang berumur 62 tahun merupakan calon tertua pada pilkada di Kalbar tahun ini.

Selain empat pasangan calon yang resmi bertanding, terdapat tiga pasangan bakal calon yang akhirnya tidak menjadi peserta Pilbup Ketapang. Pertama adalah pasangan calon perseorangan Aswin Fuad dan Suwignjo. Pasangan ini batal mendaftar diperkirakan karena syarat dukungan yang tidak cukup. Kemudian pasangan Henrikus dan Gusti Kamboja yang diusung Golkar dan Gerindra. Pasangan ini ditolak oleh KPU karena berkas dukungan dari Partai Golkar tidak memenuhi syarat. Dan terakhir adalah pasangan Yasyir Ansyari dan Iin Solinar yang membawa dukungan Partai Golkar. Pasangan ini ditolak KPU karena mendaftar di saat masa pendaftaran sudah berakhir.

Dari ketiga bakal calon yang batal, hanya pasangan Henrikus dan Gusti Kamboja yang menggugat ke Panwaslu. Panwaslu kemudian memerintahkan KPU untuk menerima pendaftaran Henrikus-Kamboja. KPU kemudian menerima kembali Henrikus-Kamboja, namun pada akhirnya, pendaftarannya ditolak kembali dengan alasan sama, yakni berkas dukungan Partai Golkar dianggap tidak sah. Henrikus kemudian menyatakan akan melaporkannya KPU ke DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu). Hingga kini, belum ada kejelasan bagaimana kelanjutan kasus ini.

Henrikus sendiri merupakan bupati petahana yang memenangkan Pilbup 2010 dengan dukungan PDI-P, Demokrat, dan PAN. Namun, pada Pilbup 2015 ini, PDI-P memutuskan mengalihkan dukungannya calon lain, manakala PAN memutuskan mengusung kadernya sendiri yang juga wabup petahana Boyman Harun sebagai cabup.

Untuk calon perseorangan, ada pula calon yang tidak sepenuhnya independen dari partai politik. Martin Rantan sebelumnya anggota DPRD Kalbar dari Partai Golkar. Ia bahkan merupakan Sekretaris Partai Golkar Ketapang kubu Aburizal Bakrie. Namun dualisme Partai Golkar menghalanginya untuk maju dengan dukungan partai, sehingga ia memutuskan maju lewat jalur independen.


Penutup

Akhir kata, saya memohon maaf dan mohon dikoreksi jika terdapat informasi yang salah. Semoga Pilkada serentak di 7 kabupaten di Kalbar berlangsung dengan aman, tertib, dan damai.

Jumat, 06 November 2015

Penobatan Putra Mahkota Kesultanan Pontianak

Pada 24 Oktober 2015, Kesultanan Pontianak menggelar acara Penobatan Putra Mahkota, Penabalan Para Pangeran, serta Penganugerahan Gelar-Gelar Kebangsawanan. Menurut sumber yang kubaca, acara ini bukanlah agenda tahunan, merupakan prosesi sekali seumur hidup untuk setiap Sultan yang bertakhta. Dengan demikian penyelenggaraan acara ini merupakan salah satu tonggak bersejarah bagi Pontianak, yang menurutku merupakan kado paling istimewa bagi HUT Kota Pontianak ke-244.

Keluarga Kesultanan Potianak, istilah kerennya Pontianak Royal Family. Dari kanan ke kiri:
- Mas Ratu Laila (Permaisuri Kesultanan Pontianak),
- Nina Widi Astuti (istri dari Putra Mahkota Kesultanan Pontianak),
- Pangeran Syarif Melvin Alkadrie (Putra Mahkota Kesultanan Pontianak)
- Sultan Syarif Abubakar Alkadrie (Sultan Pontianak), dan
- Pangeran Syarif Febriansyah Alkadrie (putra bungsu Sultan Pontianak).
(Sumber foto: equator.co.id)
Sultan Syarif Abubakar Alkadrie memperkenalkan Putra Mahkota Syarif Melvin Alkadrie
(Sumber foto: Flickr)

Dengan digelarnya acara tersebut, maka Kesultanan Kadriah akhirnya secara resmi memiliki seorang Putra Mahkota, sehingga suksesi takhta Kesultanan tidak lagi diperdebatkan. Acara ini juga menunjukkan eksistensi Kesultanan Pontianak sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Pontianak serta simbol kebudayaan Pontianak.

Atensi yang tinggi dari masyarakat sekitar Istana serta dari berbagai pejabat pemerintahan daerah dan tokoh masyarakat menunjukkan pengakuan dan dukungan yang cukup luas terhadap Sultan Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan Pontianak. Hal ini sangatlah penting mengingat kurang dari setahun yang lalu, sempat terjadi sengketa takhta Kesultanan (lihat Klaim Ganda Takhta Sultan Pontianak dan Klaim Ganda Takhta Sultan Pontianak (2)). Hingga kini, tidak pernah terdengar lagi olehku bagaimana akhir atau penyelesaian sengketa tersebut. Saya juga pernah lagi mendengar berita ataupun informasi mengenai Sultan Toto Thaha Alkadrie.

Meskipun acara penobatan/penabalan/penganugerahan ini menurutku sangat penting, namun ternyata tidak bagi masyarakat lainnya. Tercermin dari kurangnya pemberitaan yang detail dari berbagai media terkemuka di Pontianak seperti Tribun Pontianak, Pontianak Post, Harian Rakyat Kalbar, dan Suara Pemred. Namun di sisi lain, saya juga mengapresiasi media-media tersebut karena meliput acara tersebut daan meletakkannya dalam pemberitaan yang utama. Karena biasanya, pemberitaan seputar Kesultanan sangat minim perhatian dari media cetak.

Dari pemberitaan, disebutkan sebanyak 40 orang ditabalkan sebagai pangeran, 5 orang dianugerahi gelar Tengku, dan 3 orang dianugerahi gelar Dato'. Hingga kini saya tidak dapat menemukan daftar lengkap siapa saja yang mendapat gelar tersbut. Berikut ini daftar beberapa di antaranya yang kudapat dari berbagai sumber:
  • Syarif Melvin Alkadrie (putra sulung Sultan Abubakar) dinobatkan sebagai Putra Mahkota dengan gelar Pangeran Ratu Agung Seri Mahkota Maharaja;
  • Syarif Febriansyah Alkadrie (Putra bungsu Sultan Abubakar) bergelar Pangeran Mas Perdana;
  • Syarif Hasan Saleh Alkadrie bergelar Pangeran Laksamana Sepuh;
  • Syarif Abdullah bin Yahya bergelar Pangeran Pamong Perbu Nusantara;
  • Syarif Edi Yus Abdullah Alkadrie bergelar Pangeran Adipati Seri Negara;
  • Syarif Ismail Alkadrie bergelar Pangeran Mangku Seri Negara;
  • Syarif Mahmud Alwi Alkadrie bergelar Pangeran Sri Negara;
  • Dr. Syarif Hasyim Azizurahman Alkadrie bergelar Pangeran Sri Negara;
  • Syarif Machmud Alkadrie (Ketua KONI Kalbar) bergelar Pangeran Seri Negara;
  • Max Yusuf Alkadrie (mantan asisten pribadi Sultan Hamid II) bergelar Pangeran Jaya;
  • Prof. Dr. H. Thamrin Usman (Rektor Universitas Tanjungpura) bergelar Dato' Seri Cendekia Kadriah;
  • Ir. H. Edi Rusdi Kamtono (Wakil Walikota Pontianak) bergelar Dato' Kusuma Praja;
  • Sudirman HMY (Direktur Utama Bank Kalbar) bergelar Dato' Seri Indra;
  • Nordim Malim (warga Malaysia) bergelar Dato';
  • Mochamad Akip (Sekretaris Daerah Kota Pontianak) bergelar Tengku Setia Negara;
  • Ibnu Sutomo (Ketua Forum Masyarakat Anti Pembodohan) bergelar Tengku Dewangga;
  • Turiman Fachturrahman Nur bergelar Tengku Mulia Dilaga;
  • Anshari Dimyati bergelar Tengku Wira Karya;
  • Miswari Kaswandi bergelar Tengku Bahana.


Pengalaman Pribadi

Spanduk di Jl. KHW. Hasyim, Kel. Mariana, Kec. Pontianak Kota (10 Oktober 2015)
Spanduk di Jl. Letjend. Sutoyo, Kec. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (25 Oktober 2015)

Saya mengetahui tentang acara penabalan ini dari spanduk yang tersebar di beberapa sudut jalan di Kota Pontianak. Berbekal spanduk itu, saya bersama teman nekat menuju kawasan Istana Kadriah pada hari tersebut. Namun sayangnya, teman saya agak tersinggung dengan perlakuan seseorang yang tidak dikenal ketika kami sedang berjalan menuju kawasan Istana. Akibatnya, saya hanya sempat melihat acara tersebut selama beberapa menit karena teman saya memutuskan untuk balik saja daripada harus memendam rasa kesal dan marah pada orang tersebut. Akhirnya kami memilih balik dan menonton Festival Drum Band & Fashion Road di Jl. Gajah Mada.

Baliho di Jl. Tanjungpura, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan (5 November 2015)

Pada akhirnya, saya selaku rakyat jelata di Pontianak mengucapkan tahniah yang setinggi-tingginya ke atas penobatan Duli Yang Teramat Mulia Pangeran Ratu Agung Seri Mahkota Maharaja Syarif Melvin bin Sultan Syarif Abubakar Alkadrie, serta penabalan para Pangeran, Dato', dan Tengku. Karena tidak dapat menyaksikan acara tersebut secara langsung, saya berharap ada orang yang berbaik hati mendokumentasikan video acara tersebut dan disebar bagi khalayak ramai, bisa di YouTube ataupun melalui media VCD, DVD, ataupun televisi.

Akhir kata, mohon maaf dan mohon koreksinya jika dalam tulisan ini terdapat kesalahan penulisan nama, gelar, ataupun informasi; ataupun jika terdapat hal-hal yang kurang berkenan.

DAULAT TUANKU!


Sumber informasi:

  • Tribun Pontianak
  • Pontianak Post
  • Harian Rakyat Kalbar/Equator
  • Suara Pemred
  • Borneo Nusantara Time

Minggu, 01 November 2015

Galeri Kota Pontianak (Oktober 2015)

Berikut ini adalah foto-foto yang kujepret pada bulan Oktober 2015, yang belum pernah kubagi di laman-laman sebelumnya di blog ini.

Indomaret "Ayani Mega Mall", Jl. Perdana, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (3 Oktober 2015)

Renovasi Kantor Walikota Pontianak, Jl. Rahadi Usman, Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota (9 Oktober 2015)
Kompleks Balai Kota Pontianak, Jl. Rahadi Usman, Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota (9 Oktober 2015)
Kompleks Balai Kota Pontianak, Jl. Rahadi Usman, Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota (9 Oktober 2015)
Air Mancur di Kompleks Balai Kota Pontianak, Jl. Zainuddin, Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota (9 Oktober 2015)

Persimpangan Jl. Gajah Mada, Jl. Pahlawan, dan Jl. Budi Karya, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan (10 Oktober 2015)
Jl. Hasanudin dan Sungai Jawi, Kel. Sungai Jawi Dalam, Kec. Pontianak Barat (10 Oktober 2015)
Megamal Ayani, Jl. Jend. A. Yani, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (18 Oktober 2015)
Kondisi kabut asap di Jl. Gajah Mada, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan (22 Oktober 2015)
Sambutan Bapak Wakil Walikota Pontianak Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T. pada sela-sela Car Free Day di Jl. Jend. A. Yani, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (25 Oktober 2015)
Car Free Day, Jl. Jend. A. Yani, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (25 Oktober 2015)
Hiasan di persimpangan Jl. Jend. A. Yani dengan Jl. Letjend. Sutoyo, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (25 Oktober 2015)
Jl. Tanjungpura, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan (30 Oktober 2015)
Kurangnya lahan parkir menyebabkan sepeda motor "menjajah" trotoar di Parit Besar di Jl. Diponegoro, Kel. Darat Sekip, Kec. Pontianak Kota (30 Oktober 2015)