Jumat, 30 Januari 2015

Best National Costume: Indonesia

Dalam tiga bulan terakhir ini, Indonesia berhasil menoreh prestasi yang cukup membanggakan di ajang kontes kecantikan tingkat internasional. Bisa dibilang prestasi ini merupakan prestasi tersukses yang diraih Indonesia. Meskipun tidak memenangkan kontes tersebut, Indonesia berhasil meraih gelar Best National Costume (kostum nasional terbaik). Tidak hanya satu, namun tiga gelar yang sama di tiga ajang yang berbeda, yakni Miss International 2014, Miss Supranational 2014, dan yang terbaru di Miss Universe 2014.

Tale of Siger Crown
Best National Costume at Miss International 2014
Pada ajang Miss International 2014, Indonesia diwakili oleh Elfin Pertiwi Rappa selaku Puteri Indonesia Lingkungan 2014. Ajang ini berlangsung pada 11 November 2014 di Tokyo, Jepang. Pada ajang ini, Elfin Pertiwi mengenakan kostum seberat 18 kg yang bertajuk Tale of Siger Crown (Hikayat Mahkota Siger) yang terinspirasi dari busana adat Lampung. Selain itu, Elfin juga berhasil meraih posisi 10 besar dalam ajang ini.

Warrior Princess of Borneo
Best National Costume at Miss Supranational 2014
Kemudian, pada 5 Desember 2014, berlangsung ajang Miss Supranational 2014 di Warsawa, Polandia. Pada kontes ini Estelita Liana selaku Puteri Indonesia Pariwisata 2014 mengenakan kostum seberat 15 kg yang terinspirasi dari busana adat Dayak di Kalimantan. Lengkap dengan perisai dan mandau, kostumnya pun diberi nama Warrior Princess of Borneo (Putri Pejuang dari Kalimantan).

The Chronicle of Borobudur
Best National Costume in Miss Universe 2014/15
Miss Universe 2014 berlangsung pada pada 25 Januari 2015 di Miami, Florida, Amerika Serikat. Indonesia yang diwakili oleh Elvira Devinamira Wirayanti selaku Puteri Indonesia 2014 berhasil memenangkan kostum nasional terbaik serta menempati posisi 15 besar. Kostum seberat 20 kg ini mengambil tema The Chronicle of Borobudur (Sejarah Borobudur). Kostum ini terbuat dari kain sutra yang dipadukan dengan motif songket dan hiasan Candi Borobudur.

Dynand Fariz
Selain usaha dari ketiga Puteri dalam merepresentasikan kostumnya, prestasi kostum nasional terbaik ini tentu tidak terlepas dari jasa perancangnya. Adalah Dynand Fariz yang berjasa merancang ketiga kostum tersebut. Pria asal kelahiran Jember, 23 Mei 1963 ini adalah pendiri sekaligus Presiden Jember Fashion Carnaval. Ia juga memiliki rumah mode bernama House of Dynand yang terletak di Jember. Selain itu, ia kini juga adalah dosen program tata busana di Universitas Negeri Surabaya dan pengajar di sekolah mode ESMOD di Jakarta.

Keberhasilan Indonesia meraih gelar kostum nasional terbaik di tiga ajang internasional tentulah sangat diharapkan mampu mempromosikan budaya Indonesia di kancah internasional. Selain itu, tentu sangat diharapkan pula keberhasilan ini mampu mendorong terus perkembangan industri kreatif di Indonesia. Semoga dengan prestasi ini terus memacu Indonesia untuk tampil lebih baik. Jangan sampai prestasi ini justru menjadi prestasi terakhir yang diraih Indonesia.

Kamis, 29 Januari 2015

HUT Kalimantan Barat ke-58

Logo Provinsi Kalimantan Barat
Provinsi Kalimantan Barat dibentuk berdasarkan UU No. 25 tahun 1956 yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 29 Desember 1956 yang mulai berlaku pada 1 Januari 1957. Namun, baru pada tanggal 28 Januari 1957, perangkat pemerintahan daerah provinsi bisa terbentuk yang ditandai dengan dilantiknya Adji Pangeran Afloes sebagai Penjabat Gubernur Kalimantan Barat. Dengan alasan itulah, 28 Januari ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Kalimantan Barat, bukan pada 29 Desember atau 1 Januari.

Pada 28 Januari 2015, Provinsi Kalimantan Barat genap berusia 58 tahun. Peringatan Hari Jadi ke-58 tahun ini mengusung tema "Dengan semangat Hari Ulang Tahun Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat ke-58, mari kita wujudkan Kalimantan Barat yang damai dan sejahtera". Tema tersebut bermaksud menggambarkan tekad untuk menciptakan suasana Kalimantan Barat yang penuh kedamaian dalam heterogenitas, serta masyarakat yang sejahtera dengan masa depan yang lebih baik. Berbeda dengan tahun lalu, tidak ada logo resmi pada peringatan hari jadi tahun ini.

Menjelang peringatan hari jadi tahun ini, terdapat beberapa peristiwa yang cukup menarik perhatian, yang secara tidak langsung bisa dikatakan sebagai "hadiah ulang tahun" bagi Provinsi Kalimantan Barat secara umum. Sayangnya, tidak semua hadiah tersebut adalah hadiah yang menyenangkan.


PLTU Sungai Batu, Sanggau
Hadiah pertama, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pertama di Kalimantan Barat akhirnya diresmikan pada 17 Desember 2014 oleh Gubernur Drs. Cornelis, M.H.. PLTU berkapasitas 2x7 MW tersebut terletak di Desa Sungai Batu, Kec. Kapuas, Kab. Sanggau. PLTU tersebut juga mencatat rekor PLTU yang tercepat penyelesaian pembangunannya, yakni hanya 38 bulan. PLTU tersebut diharapkan mampu mengatasi kekurangan daya di kawasan Sanggau dan Sintang serta menghemat penggunaan bahan bakar minyak.


Masjid Raya Mujahidin
(foto pada: 21 November 2014)
Gereja Katedral Santo Yoseph
(foto pada: 8 Desember 2014)
Hadiah kedua adalah diresmikannya dua rumah ibadah utama tingkat provinsi di Kalimantan Barat, yaitu Gereja Katedral Santo Yoseph dan Masjid Raya Mujahidin. Gereja Katedral Santo Yoseph diresmikan oleh Gubernur Drs. Cornelis, M.H. pada 19 Desember 2014, kemudian Masjid Raya Mujahidin diresmikan oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo pada 20 Januari 2015. Kedua rumah ibadah yang berdiri megah di Kota Pontianak itu diharapkan akan menjadi simbol dan kebanggaan Provinsi Kalimantan Barat. Selain itu, diharapkan pula mampu memupuk keimanan umat serta memupuk kerukunan dan toleransi antar umat beragama di Kalimantan Barat.


Ir. H. Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Drs. Cornelis, M.H.
Gubernur Kalimantan Barat
Hadiah ketiga adalah kunjungan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo ke Kalimantan Barat pada 20–21 Januari 2015. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertamanya sejak dilantik menjadi presiden, serta kunjungan ketiga Presiden RI dalam 10 tahun terakhir ini. Dalam kunjungannya di kawasan perbatasan dengan Malaysia di Kec. Entikong, Kab. Sanggau, Presiden Joko Widodo menjanjikan akan membangun kawasan perbatasan dalam dua tahun ini.

Hadiah keempat, pada 26 Januari 2015, Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, M.H., mewakili Provinsi Kalimantan Barat mendapatkan penghargaan dari Organisasi Kepabeanan Dunia atas usahanya memberi pelayanan yang luar biasa terhadap komunitas kepabeanan internasional, terutama di perbatasan Provinsi Kalimantan Barat.


H. Usman Ja'far
Ir. H. Zulfadhli, M.M.
Dan hadiah terakhir, yang agak menyesakkan dada, adalah ditetapkannya mantan Gubernur H. Usman Ja'far serta mantan Ketua DPRD Ir. H. Zulfadhli, M.M. sebagai tersangka kasus korupsi. H. Usman Ja'far adalah Gubernur Kalimantan Barat ke-10 yang menjabat pada periode 2003–2008, sedangkan Ir. H. Zulfadhli, M.M. adalah Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat periode 2004–2009. Keduanya yang kini merupakan anggota DPR-RI mewakili dapil Kalbar ini ditetapkan sebagai tersangka pada 27 Januari 2015 oleh Kepolisian Daerah Kalimantan Barat atas kasus korupsi dana bantuan sosial provinsi pada tahun 2006–2008, dengan jumlah kerugian negara sebesar Rp 20 miliar.

* * *

Akhir kata, saya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Provinsi Kalimantan Barat, provinsi tempat aku lahir dan dibesarkan. Semoga Provinsi Kalimantan Barat selalu dan tetap ak├žaya di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Dengan Semangat Hari Ulang Tahun Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat ke-58, Mari Kita Wujudkan Kalimantan Barat yang Damai dan Sejahtera."

Senin, 26 Januari 2015

Raja Arab Saudi Mangkat

Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud
Raja Arab Saudi ke-6
Ina lillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah kembali ke Rahmatullah, Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi ke-6 pada 23 Januari 2015 Masehi bersamaan dengan 3 Rabiulakhir 1436 Hijriah. Baginda wafat dalam usia 90 tahun setelah selama 21 hari dirawat karena sakit pnemonia. Sesuai dengan tradisi Islam di Arab Saudi, pada hari yang sama, jenazah Raja Abdullah disalatkan di Masjid Agung Imam Turki bin Abdullah dan kemudian dimakamkan secara sederhana di Pemakaman Umum Al-Oud di Riyadh.

Wafatnya Raja Abdullah mengundang perhatian dunia internasional. Bahrain, India, Maroko, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Yordania mengumumkan hari berkabung nasional. Di Inggris, bendera berkibar setengah tiang di Istana Buckingham dan di Gereja Westminster Abbey. Dari Indonesia, Wakil Presiden Indonesia Drs. H. M. Jusuf Kalla membatalkan kunjungannya ke Sulawesi Selatan dan segera terbang ke Riyadh bersama Menteri Agama Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin untuk menyampaikan bela sungkawa.

Abdullah bin Abdul Aziz lahir pada 1 Agustus 1924 Masehi bersamaan dengan 29 Zulhijah 1342 Hijriah. Ia merupakan putra dari Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Saud, raja pertama Arab Saudi dari istrinya yang bernama Fahda binti Asi al-Suraim. Kariernya dimulai pada tahun 1961 ketika diangkat sebagai Walikota Mekkah. Pada tahun 1963, Abdullah diangkat menjadi Panglima Garda Nasional Arab Saudi, salah satu angkatan ketentaraan di Arab Saudi. Pada Maret 1975, Abdullah diangkat sebagai Deputi Perdana Menteri. Pada Juni 1982, setelah Raja Fahd bin Abdul Aziz naik takhta, Abdullah menjadi putra mahkota. Sejak tahun 1995, setelah Raja Fahd terserang struk, Abdullah selaku putra mahkota banyak menjalankan tugas administrasi negara mewakili Raja Fahd.

Raja Abdullah naik takhta selepas kemangkatan Raja Fahd bin Abdul Aziz, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-81, 1 Agustus 2005 Masehi bersamaan dengan 26 Jumadilakhir 1426 Hijriah. Di masa pemerintahannya, Raja Abdullah mempertahankan kedekatan hubungan Arab Saudi dengan Amerika Serikat dan Britania Raya. Di masa pemerintahannya pula, untuk pertama kalinya kaum perempuan memiliki hak pilih dalam pemilu serta diizinkan ikut berkompetisi dalam Olimpiade.

Di Arab Saudi, Raja Abdullah memegang rekor sebagai raja tertua yang naik takhta, sekaligus sebagai raja dengan umur terpanjang. Di masa Raja Abdullah juga, untuk pertama kalinya putra mahkota Arab Saudi wafat lebih dulu, mendahului rajanya. Pangeran Sultan bin Abdul Aziz, putra mahkota sejak Raja Abdullah naik takhta wafat pada Oktober 2011. Tidak sampai setahun kemudian, putra mahkota berikutnya, Pangeran Nayef bin Abdul Aziz wafat pada Juni 2012.


Raja Baru
Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud
Raja Arab Saudi ke-7

Sebagaimana layaknya negara monarki, di saat yang bersamaan dengan kepergian sang raja, disambut pula kedatangan raja yang baru. Dengan wafatnya Raja Abdullah, Salman bin Abdul Aziz al-Saud secara otomatis naik takhta sebagai Raja Arab Saudi yang ketujuh. Raja Salman merupakan adik seayah, namun tidak seibu dari Raja Abdullah.

Salman bin Abdul Aziz al-Saud lahir pada 31 Desember 1935 Masehi bersamaan 5 Syawal 1354 Hijriah. Ia merupakan putra dari Raja Abdul Aziz dari istrinya yang bernama Hassa binti Ahmad al-Sudairi. Salman memulai karier pemerintahannya ketika diangkat sebagai Wakil Gubernur Riyadh pada tahun 1954. Ia kemudian menjadi Gubernur Riyadh pada tahun 1955 hingga 1960. Pada tahun 1963, ia diangkat kembali sebagai Gubernur Riyadh. Pada November 2011, Salman dipercaya menduduki jabatan Menteri Pertahanan Arab Saudi. Pada Juni 2012, Salman menjadi Putra Mahkota Arab Saudi setelah wafatnya Pangeran Nayef bin Abdul Aziz. Di saat bersamaan, ia juga menduduki posisi Deputi Perdana Menteri.

Dalam titah perdananya, Raja Salman meminta agar rakyat Arab Saudi tetap bersatu dan menjaga solidaritas umat muslim sedunia. Ia juga berkomitmen akan tetap meneruskan apa yang sudah berjalan dan dicapai di Arab Saudi, serta memegang teguh Alquran dan Sunah Nabi sebagai konstitusi Arab Saudi.


Kerajaan Arab Saudi
Lambang Negara Arab Saudi

Arab Saudi merupakan satu dari sedikit negara di dunia yang masih mempertahankan sistem monarki absolut pada pemerintahannya. Raja Arab Saudi bertindak sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Keluarga al-Saud memegang hampir seluruh posisi penting di dalam pemerintahan di Arab Saudi. Bahkan perekonomian negara banyak dipegang tokoh-tokoh dari keluarga al-Saud.

Berbeda dengan negara monarki lainnya, takhta Arab Saudi tidak secara otomatis diwariskan kepada putra tertua sang Raja. Sejak wafatnya raja pertama, Raja Abdul Aziz pada tahun 1953, takhta diwariskan kepada para putra Raja Abdul Aziz berdasarkan asas senioritas. Sederhananya, sejak dari raja kedua, takhta diwariskan kepada para adiknya berdasarkan usia, bukan kepada putranya. Jadi, dari raja kedua hingga raja ketujuh yang sekarang ini, semuanya adalah abang-adik, putra dari Raja Abdul Aziz. Namun di balik layar, penentuan suksesi tidak sesederhana itu.

Raja Arab Saudi tidak memiliki hak mutlak dalam menentukan siapa yang akan menjadi putra mahkota. Terdapat lembaga bernama Hay'at al-Bay'ah (Dewan Kesetiaan) yang beranggotakan tokoh-tokoh senior di dalam keluarga al-Saud. Dewan ini yang kini berwenang menentukan siapa yang akan menjadi putra mahkota. Pemilihan putra mahkota ditentukan berdasarkan kriteria yang dibuat oleh dewan itu sendiri. Selain usia, kriteria lain yang dipertimbangkan antara lain dukungan dari dalam keluarga al-Saud, pengalaman pemerintahan, asal-usul keluarga ibunya, diterima oleh para ulama, dukungan dari para pengusaha, serta popularitasnya di mata publik Arab Saudi.

Perbedaan lain, jika raja-raja di negara lain dipanggil dengan istilah "Yang Mulia", "Baginda", "Paduka", atau istilah sejenis lainnya, Raja Arab Saudi tidak seperti itu. Sejak tahun 1986, Raja Arab Saudi mengadopsi gelar "Hadim al-Haramayn as-Sarifayn (Penjaga Dua Masjid Suci)" untuk menggantikan istilah yang dianggap mengagung-agungkan itu. Gelar itu juga diadopsi untuk mempertegas Arab Saudi sebagai penanggung jawab atas Masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid al-Nabawi di Madinah. Kedua Masjid ini merupakan Masjid yang paling suci bagi umat muslim sedunia.

Selasa, 06 Januari 2015

"Kebun Raya" Pontianak

Jika mendengar kata "kebun raya", pikiran kita tentu akan tertuju pada Kota Bogor. Hal ini cukup lumrah karena Kebun Raya Bogor merupakan kebun raya paling terkenal di Indonesia, bahkan menjadi salah satu tempat wisata andalan Kota Bogor. Di Kota Pontianak, tentu tidak ada kebun raya sebagaimana layaknya Kota Bogor. Namun, Kota Pontianak memiliki kawasan sejenis yang disebut arboretum. Dalam KBBI, arboretum didefinisikan sebagai "tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan". Jadi, bisa dibilang arboretum adalah sejenis kebun raya, namun dikhususkan untuk tanaman pepohonan.

Foto pada 8 Februari 2014
Foto pada 1 Januari 2015

Dalam sejarahnya, pembangunan arboretum di Kota Pontianak dicetuskan pada tahun 1987 oleh mahasiswa jurusan kehutanan di Pontianak. Tahun 1988, dilakukan pembersihan semak belukar dan pengukuran. Pembangunan resmi dimulai pada tahun 1990 dengan pembentukan panitia pelaksana. Penanaman pun dilakukan sedikit demi sedikit hingga akhirnya tampak seperti sekarang ini. Melalui Perda Kota Pontianak No. 11 Tahun 2011, Arboretum Untan akhirnya ditetapkan sebagai salah satu kawasan Hutan Kota yang secara otomatis berstatus dilindungi.

Secara resmi arboretum di Kota Pontianak bernama Arboretum Sylva Indonesia P.C. Universitas Tanjungpura. Sylva Indonesia adalah organisasi kemahasiswaan yang mewadahi mahasiswa jurusan kehutanan di seluruh Indonesia. Kata sylva sendiri diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti hutan. Manakala P.C. adalah singkatan dari Pengurus Cabang. Jadi, sesuai namanya, arboretum ini dikelola oleh mahasiswa Fakultas Kehutanan di Universitas Tanjungpura.

Penampakan Arboretum dari Jl. Jend. A. Yani (foto pada 27 Agustus 2014)

Tidak hanya istilahnya yang asing di telinga, keberadaannya pun masih asing, bahkan oleh warga Kota Pontianak sendiri. Padahal Arboretum Untan dekat dengan pusat keramaian, bahkan terlihat jelas di sisi Jl. Jend. A. Yani, salah satu jalan utama di Kota Pontianak. Karena ketidaktahuan akan keberadaannya, kebanyakan warga yang melintas mungkin hanya mengiranya sebagai lahan kosong yang belum terbangun. Secara administratif, Arboretum Untan terletak di Kel. Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara. Pintu masuknya terdapat di Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, dekat sekali dengan Bundaran Monumen Sebelas Digulis. Dengan kendaraan umum, bisa dicapai dengan menaiki oplet jurusan Sudarso – A. Yani – Kp. Bali yang bermarna dadu alias merah muda.

Foto pada 1 Januari 2015
Begitu memasuki kawasan arboretum, kesan teduh langsung terasa karena dikelilingi pohon yang menjulang tinggi, meskipun suhu udara di Kota Pontianak sangat panas. Arboretum Untan menempati lahan seluas 3,2 hektar dan memiliki koleksi lebih dari 400 spesies tanaman. Di antaranya terdapat 214 jenis pohon dan 126 jenis anggrek. Setengah dari koleksi tersebut adalah tanaman khas Kalimantan Barat. Beberapa tanaman memiliki bentuk akar atau batang yang unik sehingga menjadi objek bagi pengunjung yang suka berfoto ria. Selain tanaman, terdapat pula 32 jenis burung dan 50 jenis serangga yang hidup di dalam arboretum.

Foto pada 8 Februari 2014
Foto pada 8 Februari 2014

Sepanjang pengamatan saya, kekurangan utama di Arboretum Untan adalah kurangnya fasilitas jalan yang memungkinkan pengunjung untuk berkeliling hingga pelosok arboretum tanpa harus berbecek ria. Bagi yang suka bertualang, tentu sangat menikmati berbecek ria. Namun tidak semua pengunjung suka becek. Ada yang lebih memilih berhenti dan kembali daripada harus berbecek ria. Pengelolaan sampahnya juga kurang, serta kurang adanya label yang menerangkan jenis-jenis pohon yang ada. Namun di sisi lain, kelebihan utamanya adalah tidak dipungut biaya alias gratis ketika masuk ke kawasan arboretum. Jika beruntung, kita akan ditemani mahasiswa yang ramah dan dengan sukarela memandu kita melihat-lihat kawasan arboretum.

Foto pada 1 Januari 2015
Foto pada 1 Januari 2015
Foto pada 1 Januari 2015

Tujuan utama Arboretum Untan memang untuk pelestarian, konservasi, penelitian, dan pendidikan. Namun, menurutku, tanpa harus menyampingkan tujuan aslinya, tidak ada salahnya jika arboretum dikembangkan dan ditata sebagai kawasan wisata, terutama untuk ekowisata, wisata pendidikan, dan rekreasi. Untuk bisa dikembangkan, tidak bisa hanya mengandalkan pihak Sylva Indonesia atau Universitas Tanjungpura saja. Diperlukan pula bantuan dan kerja sama dari Pemkot Pontianak. Jikalau perlu, juga dari Pemprov Kalimantan Barat.

Foto pada 8 Februari 2014
Foto pada 1 Januari 2015

Sebagai kota yang berwawasan lingkungan, seperti visi Pemkot Pontianak sejak 1999, sudah selayaknya Kota Pontianak memiliki tempat wisata yang berbasis lingkungan alias ekowisata. Harapan saya, semoga ke depannya, Arboretum Untan dapat ditata sebagai salah satu kawasan wisata andalan bagi Kota Pontianak, tidak hanya bagi penduduk lokal, namun juga bagi warga dari luar kota, sebagaimana Kota Bogor dengan kebun rayanya.