Kamis, 27 November 2014

Air Mancur di Kota Pontianak yang Baru (Tapi Lama)

Foto pada 6 November 2014
Setelah belasan tahun terbengkalai, akhirnya air mancur ini kembali berfungsi menghiasi wajah Kota Pontianak tercinta. Tidak kuketahui jelas, kapan air mancur ini dibangun. Namun, saya masih ingat ketika masih kecil (sekitar awal 1990-an), air mancur ini berfungsi setiap pagi hingga malam. Bahkan dihiasi lampu pada malam hari. Sekitar pertengahan 1990-an, air mancur ini pun tidak pernah berfungsi lagi. Dan entah apa alasannya, selama bertahun-tahun, tidak pernah ada upaya yang terlihat untuk memfungsikan kembali air mancur ini.

Foto pada 4 November 2013
Tidak seperti sekarang, air mancur ini dulu adalah bundaran yang menghubungkan Jl. Pattimura, Jl. Jend. Urip, Jl. Zainuddin, dan Jl. Jend. Sudirman. Setelah Mal Matahari dibuka pada tahun 2001, untuk memperlancar arus lalu lintas, kawasan bundaran pun dimodifikasi hingga berbentuk segitiga seperti sekarang. Namun modifikasi tersebut tidak dibarengi dengan pemfungsian kembali air mancur. Kolam air mancur pun dibiarkan apa adanya. Jika dilihat dari sisi positifnya, setidaknya air mancur tersebut tidak dihancurkan dengan harapan nantinya akan difungsikan kembali.

Foto pada 6 November 2014
Foto pada 6 November 2014
Akhirnya, pada Oktober 2014, air mancur ini akhirnya berfungsi kembali. Selain dicat ulang, bagian atasnya ditambah hiasan untuk mempercantik penampakannya, sekaligus agar kelihatan lebih tinggi. Namun, ada beberapa kekurangan jika dibandingkan dengan kondisi awal 1990-an silam. Pertama, volume pancuran airnya tidak sederas dulu. Kedua, belum ada lampu hias di malam hari, sehingga pada malam hari, air mancurnya tampak kurang mencolok. Seingat saya dulu, dari bagian tengahnya, ada lampu yang menambah kecantikannya di malam hari.

Foto pada 7 November 2014

Foto pada 7 November 2014
Meskipun begitu, upaya revitalisasi air mancur ini sangat patut diapresiasi. Sebagai warga Kota Pontianak, Saya berterima kasih kepada siapapun yang turut berkontribusi dalam revitalisasi air mancur ini. Semoga air mancur ini ke depannya bisa terus dipercantik dengan penambahan lampu hias atau penataan kawasan sekitarnya, dan yang terpenting, terus dijaga dan dirawat agar menjadi salah satu landmark Kota Pontianak. Semoga tidak ada tangan-tangan jahil yang merusak keindahannya, termasuk mencuri pompa dan pipanya.

Foto pada 7 November 2014

Rabu, 26 November 2014

Klaim Ganda Takhta Sultan Pontianak

Ternyata tidak hanya di Palembang, Surakarta, dan Ternate. Di Kesultanan Pontianak pun kini menghadapi klaim ganda pewaris takhta kesultanan. Selain membingungkan warga Pontianak, klaim ganda ini juga membelah Dinasti Alkadrie, dinasti yang telah memimpin Kesultanan Pontianak sejak 1771, sekaligus juga mengundang keprihatian dari para pecinta dan pemerhati Kesultanan Pontianak.

Sultan Toto Thaha
Sultan Syarif Toto Thaha ibnu Almarhum Sultan Syarif Thaha Alkadrie
Sultan Pontianak ke-X
Klaim ganda ini dimulai pada 31 Oktober 2014, ketika Syarif Toto Thaha Alkadrie diumumkan sebagai Sultan ke-X. Lima hari kemudian, pada 5 November 2014, Sultan Toto Thaha memperkenalkan dirinya sebagai Sultan dengan berjalan kaki menuju Istana Kadriah dengan atribut Kesultanan. Upacara penobatan pun direncanakan akan dilangsungkan dalam waktu dekat dengan mengundang seluruh Raja/Sultan se-Kalbar dan anggota Forum Kesultanan Nusantara.

H. Sy. Toto Thaha Alkadrie, S.Sos. lahir di Pontianak pada 29 Agustus 1952 pada Pemilu 2014 lalu pernah menjadi calon anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari Partai Demokrat untuk dapil Kalbar 1 (Kota Pontianak). Ia memperoleh 2.063 suara, namun tidak terpilih. Berdasarkan daftar riwayat hidupnya, ia adalah Ketua Majelis Musyawarah Istana Kadriah sejak 1999 dan Ketua Pemangku Adat Majelis Adat Budaya Melayu Kota Pontianak sejak 2002. Ia juga pernah menjadi Anggota DPRD Kota Pontianak dari tahun 1992 hingga 1999.

Sultan Toto Thaha merupakan putra dari Sultan Thaha Alkadrie. Dari garis ibunya yang bernama Ratu Anom Negara Syarifah Fatimah Alkadrie, Sultan Thaha merupakan cucu dari Sultan Mohamad. Dari garis ayahnya yang bernama Syarif Usman Alkadrie, Sultan Thaha merupakan cicit dari Sultan Yusuf (sultan ke-V) dari anak lelakinya yang bernama Syarif Machmud Alkadrie. Hingga kini, kedudukan Sultan Thaha sebagai sultan atau bukan masih diperdebatkan.

Pada 13 November 2011, Sultan Toto Thaha mendapat dukungan dari Dewan Nasional Angkatan 45 Republik Indonesia serta dari Forum Komunikasi Pemuda Melayu Kota Pontianak. Acara yang berlangsung di Istana Kadriah itu dihadiri pula oleh mantan Walikota Pontianak Buchary Abdurrahman.

Sultan Abubakar

Sultan Syarif Abubakar ibnu Almarhum Syarif Mahmud ibnu Almarhum Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
Sultan Pontianak ke-VIII
Menghadapi klaim itu, pihak Sultan Abubakar tinggal diam. Pada 6 November 2014, Yayasan Sultan Hamid II secara terbuka menyatakan tetap mengakui Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan ke-VIII. Pada 18 November 2014, Sultan Abubakar menyatakan bahwa dirinya tetap bertakhta sebagai Sultan ke-VIII, yang secara tidak langsung menolak klaim Sultan Syarif Toto Thaha Alkadrie. Di hari yang sama, Baginda Sultan juga mengeluarkan titah yang berbunyi sebagai berikut:
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Saya yang berada di atas Takhta Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abubakar Alkadrie bin Syarif Mahmud Alkadrie bin Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Sultan Kadriah Pontianak ke-VIII menyerukan dan menyampaikan titah:
Atas asma Allah Subhanallah wa Ta'ala dan Muhammad Rasulullah Shallahualaihi Wa Sallam, kepada seluruh keluarga besar Alkadrie yang berada di dalam wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya maupun di perantauan, seluruh pecinta dan pemerhati Kesultanan Kadriah Pontianak, marilah kita berpikir jernih, bermusyawarah dan bermufakat menyandarkan segala pemikiran kepada Alquran dan sunnah; merapatkan barisan dan berjabatan tangan di dalam tali ikatan ukhuwah yang penuh dengan semangat kebersamaaan, perdamaian, kasih sayang, dan kekeluargaan; menegakkan dan tunduk pada hukum syariat sebenar-benarnya dari dunia hingga ke akhiran. Alhamdulillah Rabbilalamin.
Syarif Abubakar Alkadrie, lahir di Pontianak pada tanggal 26 Juli 1944, dinobatkan sebagai Sultan Pontianak ke-VIII setelah hampir 26 tahun, takhta Pontianak kosong setelah kemangkatan Sultan Hamid II pada tahun 1978. Baginda dinobatkan sebagai Sultan pada Januari 2004, setelah sebelumnya mendapat restu dari Ratu Perbu Wijaya Syarifah Khadijah Alkadrie, putri dari Sultan Mohamad, yang pada saat itu merupakan anggota keluarga Alkadrie yang tertua, yang berumur lebih dari 100 tahun.

Sultan Abubakar merupakan cucu dari Sultan Mohamad dari anak lelakinya, Pangeran Agung Syarif Mahmud Alkadrie. Syarif Mahmud sendiri adalah adik kandung dari Sultan Hamid II. Sultan Abubakar dinobatkan sebagai Sultan atas kesepakatan bersama antara para pewaris Sultan Mohamad dikarenakan keengganan putra dari Sultan Hamid II, yakni Syarif Yusuf alias Max Nico Alkadrie yang kini berkewarganegaraan Belanda untuk dinobatkan sebagai Sultan Pontianak.

Dasar Klaim

Silsilah Sultan Pontianak

Bagi pihak Sultan Toto Thaha, pengangkatan sultan baru didasarkan atas beberapa hal. Pertama, pada rapat besar Zichiryo Hyogikai (Dewan Kerajaan) pada 29 Agustus 1945 yang mengangkat Syarif Thaha Alkadrie sebagai Sultan ke-VII, menggantikan Sultan Mohamad yang wafat dibunuh tentara Jepang. Dua bulan kemudian, Sultan Thaha kemudian secara sukarela berundur dan menyerahkan takhta kepada Sultan Hamid II sebagai Sultan ke-VIII.

Dasar berikutnya adalah Surat Keputusan Bertiga tertanggal 10 Desember 2002 yang menetapkan Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan Pontianak ke-IX yang bersifat sementara, untuk masa 3 tahun (2002–2005) sehingga sejak 10 Desember 2005, takhta Kesultanan Pontianak kembali kosong secara otomatis. Oleh karena itu, dianggap perlu untuk segera mengangkat sultan baru yang definitif. Akhirnya, Syarif Toto Thaha Alkadrie, putra dari Sultan Thaha akhirnya dianggap yang paling berhak menduduki takhta kesultanan sebagai Sultan ke-X.

Namun bagi pihak Sultan Abubakar, dialah pewaris yang sah sesuai Mahkamah Syariah Pontianak (sekarang bernama Pengadilan Agama) melalui Ketetapan Nomor 154/1971 dan Nomor 118 Tahun 1978, serta berdasar hukum Syariat Islam. Kemudian, Zichiryo Hyogikai (Dewan Kerajaan) yang menjadi dasar pesaingnya hanyalah bentukan tentara Jepang yang telah membantai banyak Keluarga Alkadrie. Dengan demikian, tidak ada Sultan Thaha sebagai Sultan ke-VII. Sultan Hamid II adalah Sultan ke-VII dan Sultan Abubakar adalah Sultan ke-VIII, bukan ke-IX. Baginda juga menambahkan, bahwa rapat keluarga besar yang mengangkat sultan baru itu tidak pernah ada. Penobatan dirinya sebagai Sultan pun telah berdasarkan atas kesepakatan bersama di antara para pewaris Sultan Mohamad, yang kemudian dikukuhkan dengan restu dari Ratu Anom Negara.

Pendapat Pribadi

Masing-masing pihak tentu memiliki argumen dan pembenarannya masing-masing. Menurutku pribadi sebagai warga jelata di Kota Pontianak, terlepas dari siapa Sultan yang sah dan siapa Sultan "penyusup", sengketa takhta kesultanan seharusnya tidak terjadi. Sebaiknya kedua pihak yang mengklaim sebagai Sultan itu saling bertemu untuk memusyawarahkannya. Sebagai seorang raja, sudah sepatutnya memberi contoh moral yang baik bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya. Jikalau perlu, semoga ada pihak ketiga yang bersedia memfasilitasi dan mempertemukan kedua belah pihak. Semoga sengketa takhta Kesultanan Pontianak ini segera berakhir dan tidak berlarut-larut.

Daulat Tuanku.

Selasa, 11 November 2014

Pahlawan Nasional 2014

Pahlawan Nasional 2014 (kiri ke kanan: Djamin Ginting, Soekarni Kartodiwirjo, Mohamad Mangoendiprodjo, dan Abdul Wahab Hasbullah)

Sebagai bagian dari peringata Hari Pahlawan 2014, empat orang tokoh nasional dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo, antara lain:
  1. Letjen Djamin Ginting, lahir di Karo pada 12 Januari 1921 merupakan tokoh militer asal Sumatera Utara yang turut berpartisipasi menumpas pemberontakan DI/TII di Aceh dan pemberontakan Nainggolan di Medan. Ia wafat di Ottawa pada 23 Oktober 1974 ketika bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kanada dan kemudian dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
  2. Soekarni Kartodiwirjo, lahir di Blitar pada 14 Juli 1916, tokoh pergerakan kemerdekaan asal Jawa Timur yang dikenal sebagai pemimpin pergerakan pemuda yang mendesak Ir. Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Di era Soekarno, ia sempat bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Cina. Kemudian di era Orde Baru, ia dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung hingga wafat pada 7 Mei 1971 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
  3. Mayjen H. R. Mohamad Mangoendiprodjo, tokoh pejuang asal Jawa Tengah yang turut serta dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Ia kemudian menjabat sebagai Bupati Ponorogo, kemudian Residen Lampung hingga wafat pada 13 Desember 1988 dan dimakamkan di TMP Bandar Lampung.
  4. K.H. Abdul Wahab Hasbullah, tokoh agama asal Jawa Timur dan merupakan salah satu tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Ia dikenal dengan ajarannya yang menekankan pada kebebasan dalam keberagaman. Ia lahir di Jombang pada 31 Maret 1888 dan wafat di Jombang pada 29 Desember 1971 dan dimakamkan di Tambakberas, Jombang.
Keempat tokoh tersebut juga menjadi Pahlawan Nasional pertama yang dianugerahi oleh Presiden Joko Widodo. Dengan dianugerahkannya empat pahlawan baru, jumlah Pahlawan Nasional Indonesia kini bertambah menjadi 163 orang. Berikut daftar lengkap 163 Pahlawan Nasional Indonesia:

Pahlawan Nasional Indonesia

Senin, 10 November 2014

Hari Pahlawan – Kota Pontianak

Hari ini adalah Hari Pahlawan, hari untuk mengenang jasa-jasa pahlawan dan pejuang yang telah gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hari Pahlawan umumnya diperingati dengan ziarah ke taman makam pahlawan. Namun, kegiatan ziarah sulit dilakukan bagi warga Kota Pontianak karena ketiadaan taman makam pahlawan di Kota Khatulistiwa ini. Apakah ini berarti juga ketiadaan kisah perjuangan di Kota Pontianak? Tentu saja tidak. Meski tanpa taman makam pahlawan, terdapat beberapa tempat menarik (setidaknya menurutku pribadi) di Kota Pontianak yang dapat membantu kita mengenang perjuangan para pahlawan kita. Berikut adalah tempat-tempat tersebut.


Tugu Pancasila

Tampak depan Tugu Pancasila (15 September 2013)
Tampak belakang Tugu Pancasila (6 November 2013)
Tugu Pancasila terletak di kawasan bundaran Pelindo, antara Jl. Rahadi Usman dengan Jl. Pak Kasih. Secara administratif, terletak di Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota. Ciri khas utama tugu berwarna merah-putih adalah lambang negara Garuda Pancasila berukuran besar di sisi depannya. Sedangkan sisi belakangnya terdapat lambang Kota Pontianak dengan tulisan "PADAMU NEGERI KAMI MENGABDI". Dari jauh, tugu ini kurang terlihat jelas karena tertutupi pohon pinang yang tinggi.

Patok lokasi Tugu Korban Agresi Jepang (15 September 2013)
Sebelum dibangun Tugu Pancasila, dahulu terdapat Tugu Korban Agresi Jepang untuk mengenang korban pembantaian oleh tentara Jepang. Tugu tersebut kemudian dirobohkan dan diganti tugu yang ada sekarang. Lokasi tugu tersebut kini dibangun patok yang berjarak kira-kira 30 meter di depan Tugu Pancasila.

Jika dilihat dari bentuk dan ciri-cirinya nya, sepertinya tugu ini awalnya ditujukan sebagai cenotaph. Cenotaph alias nisan kosong adalah monumen yang dibangun untuk mengenang para pejuang yang telah gugur, yang kuburannya tersebar di berbagai daerah, atau yang keberadaan jenazahnya tidak diketahui. Karena Kota Pontianak tidak memiliki taman makam pahlawan, maka sudah selayaknya tugu ini difungsikan untuk mewakili keberadaan taman makam pahlawan.


Monumen Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat

Sisi depan monumen (4 November 2013)

Sisi belakang monumen (4 November 2013)
Salah satu relief di monumen (4 November 2014)
Monumen ini terletak di Jl. R.A. Kartini, Kel. Darat Sekip, Kec. Pontianak Kota, tepatnya di salah satu dinding Stadion Keboen Sajoek, di belakang Mal Matahari. Monumen ini berisikan 20 relief yang menceritakan sejarah Kalimantan Barat, dari zaman kesultanan hingga era mempertahankan kemerdekaan. Monumen ini memiliki dua sisi. Sisi belakang banyak mengisahkan sejarah kesultanan. Sisi ini mudah dicapai karena menghadap ke Jl. R.A. Kartini. Sisi depannya lebih banyak mengisahkan kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sisi depan ini sebenarnya mudah dicapai melalui pintu samping stadion. Namun karena pintu ini seringkali digembok, untuk menuju sisi depan, kita harus memutar dahulu sejauh kurang lebih 75 meter dan masuk melalui pintu utama stadion di Jl. A.R. Hakim. Mengunjungi monumen ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai sejarah lokal serta menambah kebanggaan kita atas perjuangan para pendahulu kita.


Monumen Sebelas Digulis Kalimantan Barat

Monumen Sebelas Digulis pada malam hari (6 November 2013)
Monumen Sebelas Digulis pada pagi hari (22 Desember 2013)
Prasasti peresminan Monumen Sebelas Digulis (22 Desember 2013)
Monumen ini terletak di Bundaran Universitas Tanjungpura di Jl. Jend. A. Yani, Kel. Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara. Monumen ini berupa sebelas tugu berbentuk bambu runcing berwarna kuning. Monumen ini diresmikan tepat di Hari Pahlawan pada 10 November 1987 oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu Mayjen TNI (Purn.) H. Soedjiman. Monumen ini dibangun untuk memperingati 11 tokoh pergerakan asal Kalimantan Barat yang dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digoel di Papua. Berbeda dengan dua monumen sebelumnya, monumen ini tampak cukup terawat. Apalagi sejak 2013 lalu, dibangun air mancur di sekitar monumen ini, yang sudah tentu menambah keindahan monumen. Selain sebagai sarana peringatan sejarah, mengunjungi monumen ini juga bisa sekaligus sebagai sarana rekreasi.


Jl. Pahlawan

Plang nama Jl. Pahlawan (10 November 2014)
Jl. Pahlawan (10 November 2014)
Tempat terakhir ini sebenarnya tidak memiliki nilai sejarah atau peringatan tertentu. Namun yang membuatku tertarik hanya karena nama jalannya. Pemberian nama Jl. Pahlawan tentu bermaksud sebagai penghargaan jasa para pahlawan secara umum. Jadi, tidak ada salahnya jika di Hari Pahlawan, kita berjalan melintasi Jl. Pahlawan. Sekurang-kurangnya untuk mengetahui keberadaan jalan yang terletak di Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan ini. Jalan sepanjang 325 meter ini merupakan salah satu kawasan komersial di Kota Pontianak. Dapat dilihat dengan banyaknya ruko di sepanjang jalan ini. Di ujung jalan ini terdapat Pasar Flamboyan, pasar tradisional terbesar di Kota Pontianak.


Itulah beberapa tempat di Kota Pontianak yang tidak ada salahnya untuk diketahui dalam rangka peringatan Hari Pahlawan. Jikalaupun kita tidak memiliki waktu karena banyaknya kegiatan, sekurang-kurangnya kibarkanlah Sang Merah Putih di depan rumah kita masing-masing selama sehari penuh pada tanggal 10 November ini. Sudahkah Anda mengibarkannya di Hari Pahlawan ini?

Selamat Memperingati Hari Pahlawan
"Pahlawanku Idolaku"