Jumat, 26 Desember 2014

Selamat Hari Natal 2014

Baliho Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru dari Walikota dan Wakil Walikota Pontianak
Lokasi: Jl. Gajah Mada, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan
Tanggal foto: 23 Desember 2014

Hari Natal merupakan hari raya umat Kristen sedunia yang merayakan kelahiran Yesus Kristus yang oleh umat Kristen dipercaya sebagai Anak Allah, Mesias, dan Juru Selamat umat manusia. Mayoritas umat Kristen sedunia merayakan Natal pada tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Namun bagi sebagian Kristen Ortodoks, hari Natal dirayakan di tanggal yang berbeda karena menggunakan sistem kalender lama, yaitu pada 6, 7 atau 19 Januari, tergantung Gerejanya.

Selain di Indonesia, Hari Natal juga menjadi hari libur resmi di hampir semua negara di dunia. Natal merupakan hari libur resmi di seluruh negara di Benua Amerika, Eropa, Australia, dan Oseania. Hanya 33 negara yang tidak menetapkan Natal sebagai hari libur resmi, antara lain enam negara di Afrika dan 27 negara di Asia. Sebagai catatan tambahan, tanggal 25 Desember adalah hari libur resmi di Taiwan dan Pakistan, namun bukan sebagai hari Natal. 25 Desember adalah Hari Konstitusi di Taiwan, sedangkan di Pakistan, diperingati sebagai Hari Kelahiran Muhammad Ali Jinnah, bapak pendiri Negara Pakistan.


Di Indonesia, Hari Natal untuk pertama kali ditetapkan sebagai hari libur nasional pada tahun 1953 melalui Keppres No. 24 Tahun 1953. Sejak saat itu, meskipun terjadi perubahan hari-hari libur nasional, kedudukan Hari Natal sebagai hari libur tidak pernah berubah.

Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2010, terdapat 23.436.386 penduduk beragama Kristen, atau setara 9,86% penduduk Indonesia. Dari 9,9% tersebut, 6,95% menganut Kristen Protestan dan 2,91% menganut Kristen Katolik. Terdapat empat provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, antara lain Nusa Tenggara Timur (88,9%), Papua (83,1%), Sulawesi Utara (68%), dan Papua Barat (60,8%). Provinsi lain yang memiliki penduduk Kristen yang cukup signifikan antara lain Maluku (48,2%), Kalimantan Barat (34,3%), Sumatera Utara (31%), Kalimantan Utara (26,4%), dan Maluku Utara (25,4%).

Logo PGI dan KWI

Di Indonesia, Hari Natal 2014 diperingati secara resmi dengan tema "Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga". Tema ini merupakan kesepakatan bersama antara Konferensi Wali Gereja Indonesai (KWI) dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Tema ini diambil dengan maksud mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan.


Untuk mengakhiri artikel ini, berikut adalah beberapa petikan Pesan Natal dari beberapa tokoh:

"Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang Juru Selamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia." (Pesan Natal Bersama PGI dan KWI, November 2014)

"Dengan peristiwa kelahiran Yesus, kita melihat betapa Allah terlibat di dalam kehidupan manusia dengan kecemasan dan keprihatinan-Nya, dengan kegembiraan dan harapan-Nya. Semoga dengan merayakan Natal, umat Kristiani terdorong untuk ikut melibatkan diri di dalam kehidupan masyarakat, dalam peran apapun yang bisa diambil menuju Indonesia yang lebih baik." (Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia, 23 Desember 2014)

"Keluarga adalah komponen yang sangat pokok dan substansial dalam kehidupan bermasyarakat. Ajaran Tuhan sangat sederhana dalam umat Kristiani, yakni kasih, pengampunan, dan ada kedamaian. Kalau tiap keluarga ada kedamaian dan cinta kasih, maka akan dirasakan juga para tetangga, masyarakat, dan semua orang." (Mgr. Dr. Agustinus Agus, Pr., Uskup Agung Pontianak, 24 Desember 2014)

"Bagiku, kehidupan Yesus Kristus, Pangeran Kedamaian, yang kelahirannya kita rayakan hari ini, merupakan inspirasi dan sandaran hidup saya. Sebagai panutan atas rekonsiliasi dan pengampunan, Ia mengulurkan tangannya dengan kedamaian, dukungan, dan penyembuhan. Contoh dari Kristus telah mengajari saya untuk menghormati dan menghargai seluruh manusia, apapun kepercayaannya." (Ratu Elizabeth II, Gubernur Tertinggi Gereja Inggris, 25 Desember 2014)

"Saudara dan saudari yang kukasihi, semoga Roh Kudus, pada hari ini, mencerahkan hati kita agar kita dapat mengenali, melalui kelahiran bayi Yesus di Betlehem oleh Perawan Maria, keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita semua, kepada setiap pria dan wanita, dan kepada seluruh manusia di bumi. Semoga kekuatan Kristus yang membawa kebebasan dan pelayanan dapat dirasakan oleh hati mereka yang sedang menderita akibat peperangan, penganiayaan, dan perbudakan. Semoga kuasa Ilahi, dengan kelembutannya, membuang kekerasan hati banyak pria dan wanita yang tenggelam dalam pengaruh keduniawian dan ketidakpedulian, globalisasi ketidakpedulian. Semoga kekuatan penebusan-Nya mengubah senjata menjadi bajak, kehancuran menjadi kreativitas, kebencian menjadi kasih dan kelembutan." (Paus Fransiskus, Uskup Roma, Pemimpin Tertinggi Gereja Universal, 25 Desember 2014)

Selasa, 23 Desember 2014

Kaisar Jepang

Akihito
Kaisar Jepang

Hari ini, 23 Desember 2014 merupakan salah satu hari nasional di Jepang, lebih tepatnya adalah Hari Ulang Tahun Kaisar. Kaisar Akihito pada hari ini genap berusia 81 tahun. Ulang tahun Kaisar merupakan salah satu dari sedikit momen yang dinanti-nanti karena pada hari ini, Istana Kekaisaran Tokyo akan dibuka untuk umum dan publik yang berkunjung akan berkesempatan melihat Baginda Kaisar beserta seluruh keluarga kekaisaran secara langsung. Di saat yang bersamaan pula, publik dapat mendengar titah singkat dari Kaisar yang dibacakan langsung oleh Baginda Kaisar sendiri. Pada hari yang sama pula, Kaisar menggelar konferensi pers dan menjawab secara langsung beberapa pertanyaan dari wartawan.

"Lebih dari tiga juta orang Jepang kehilangan nyawanya selama Perang Dunia II. Untuk memastikan bahwa mereka tidak mati sia-sia, saya yakin sudah menjadi kewajiban kita yang selamat, sekaligus sebagai tanggung jawab kita kepada generasi mendatang, untuk terus berjuang menuju Jepang yang lebih baik. Demi mencapai pembangunan yang baik, saya sangat berharap Jepang akan mampu tampil di dunia sebagai bangsa yang stabil, damai, dan baik dalam bekerja sama, tidak hanya dengan negara tetangga, tetapi juga dengan sebanyak mungkin negara di dunia." (Kaisar Akihito, 23 Desember 2014)

Akihito (明仁) lahir di Tokyo pada 23 Desember 1933 dengan gelar Pangeran Tsugu. Ia merupakan anak kelima dan putra pertama dari Kaisar Showa dan Permaisuri Kojun. Berbeda dengan tradisi pada keluarga kekaisaran sebelumnya, atas permintaan ayahnya, Akihito tidak mengenyam pendidikan militer dan tidak menduduki posisi apapun di dalam militer. Akihito secara resmi dinobatkan sebagai Putra Mahkota Jepang pada 10 November 1952.

Pada 10 April 1959, Akihito menikah dengan Shoda Michiko yang tidak memiliki darah bangsawan, menjadikannya sebagai Kaisar Jepang pertama yang menikahi rakyat jelata. Pernikahan Akihito dan Michiko dikaruniai dua orang putra, yakni Naruhito pada 1960 dan Fumihito pada 1965, serta seorang putri, yakni Sayako pada 1969. Akihito naik takhta setelah kemangkatan ayahandanya pada 7 Januari 1989. Ia secara resmi dinobatkan pada 12 November 1990 dengan gelar Kaisar Heisei.

Secara pribadi, Kaisar Akihito merupakan seorang peneliti di bidang iktiologi (cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang ikan) dan telah menulis beberapa buku di bidang itu. Pada tahun 2005, spesies baru ikan gobi yang ditemukan diberi nama ilmilah Exyrias akihito sebagai penghormatan terhadapnya.

Dalam memperkuat hubungan bilateral antara Jepang dengan Indonesia, Kaisar Akihito pernah bertemu dengan hampir semua Presiden Indonesia, antara lain:
  • Pada Februari 1958, saat itu masih Putra Mahkota mendampingi ayahandanya menerima kunjungan Presiden Soekarno;
  • Menerima Presiden Soeharto yang mengucapkan belasungkawa atas kemangkatan ayahandanya pada tahun 1989;
  • Berkunjung ke Indonesia pada tahun 1991 dan diterima oleh Presiden Soeharto;
  • Menerima Wakil Presiden B.J. Habibie di Jepang pada Maret 1998;
  • Menerima Presiden Abdurrahman Wahid sebanyak dua kali, yakni November 1999 dan April 2000;
  • Menerima Presiden Megawati Soekarnoputri sebanyak tiga kali, yakni September 2001, Juni 2003, dan Desember 2003; dan
  • Empat kali menerima kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Juni 2005, November 2006, Juli 2008, dan Juni 2011. 

Kaisar Showa dan Putra Mahkota Akihito bersama Presiden Soekarno
di Tokyo pada Februari 1958
Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko bersama Ibu Negara Siti Hartinah dan Presiden Soeharto
di Jakarta pada tahun 1991
Kaisar Akihito bersama Presiden Megawati Soekarnoputri di Tokyo pada Juni 2003
Kaisar Akihito bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Tokyo pada Juni 2011

Berdasarkan Konstitusi Jepang Tahun 1947, Kaisar hanya disebutkan sebagai simbol pemersatu masyarakat Jepang. Kaisar Jepang tidak berposisi de jure sebagai kepala negara dan tidak memiliki kewenangan apapun. Namun, secara de facto, Kaisar Jepang menjalankan tugas sebagaimana layaknya seorang kepala negara, seperti membuka sesi parlemen dan melantik perdana menteri. Pada saat kunjungan kenegaraan, Kaisar pun diberi penghormatan sebagaimana layaknya seorang kepala negara asing.

Saat ini, Kaisar Jepang merupakan satu-satunya kepala monarki di dunia yang bergelar "kaisar". Namun di Jepang sendiri, Kaisar secara resmi bergelar Tenno (天皇) yang secara harafiah berarti "penguasa langit" atau "raja langit". Jepang saat ini merupakan monarki tertua di dunia, yang dibentuk pada tahun 660 S.M. oleh Kaisar Jimmu. Menurut legenda, Kaisar Jimmu merupakan keturunan dari Dewi Amaterasu, dewi matahari serta dewi paling utama dalam Agama Shinto. Kaisar Akihito yang saat ini bertakhta merupakan kaisar ke-125 dan masih keturunan langsung dari Kaisar Jimmu.

Minggu, 07 Desember 2014

Pimpinan dan Fraksi DPRD Provinsi Kalimantan Barat 2014–2019

Logo DPRD Provinsi Kalimantan Barat
Pimpinan
Pimpinan DPRD Provinsi Kalimantan Barat 2014–2019
Setelah lebih dari dua bulan sejak dilantik pada 29 September 2014 lalu, akhirnya DPRD Provinsi Kalimantan Barat memiliki pimpinan yang definitif. Pimpinan definitif yang terdiri dari satu orang ketua dan tiga wakil ketua resmi dilantik pada 3 Desember 2014. M. Kebing L. dari PDI Perjuangan, dapil Kalimantan Barat 7 (Sintang, Melawi, Kapuas Hulu) resmi menjabat Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat periode 2014–2019. Untuk tiga kursi Wakil Ketua DPRD, masing-masing dijabat oleh Hj. Suma Jenny Heryanti, M.H. dari Partai Golkar, dapil Kalbar 8 (Ketapang, Kayong Utara); Ermin Elviani, S.H. dari Partai Demokrat, dapil Kalbar 2 (Mempawah, Kubu Raya); dan Ir. H. Suriansyah, M.M.A. dari Partai Gerindra, dapil Kalbar 4 (Sambas).

Menurutku pribadi, pimpinan DPRD Prov. Kalimantan Barat sangat representatif dilihat dari afiliasi partai, daerah pemilihan, jenis kelamin, maupun agama. Dari sisi partai politik, keempat pimpinan mewakili empat partai terbesar di DPRD. Dari sisi daerah pemilihan juga tersebar di berbagai wilayah, dari ujung timur (Kapuas Hulu), barat (Mempawah), utara (Sambas), hingga selatan (Ketapang). Dari sisi jenis kelamin, ditempatkan dua orang perempuan sebagai Wakil Ketua DPRD. Hal ini tentu sangat membanggakan kaum perempuan, apalagi mengingat dari 65 jumlah kursi dewan, hanya 7 kursi yang diduduki oleh perempuan. Dan dari sisi agama, ditempatkan seorang non-muslim, lebih tepatnya seorang Katolik sebagai Ketua DPRD. Representasi dari berbagai penjuru ini jarang sekali terlihat dalam paket pimpinan dewan di Indonesia, baik di tingkat pusat, maupun daerah.

Fraksi

Di periode 2014–2019, DPRD Provinsi Kalimantan Barat terbagi ke dalam delapan fraksi. Dari 11 partai yang menduduki kadernya di dewan, hanya enam partai yang membentuk fraksi sendiri. Sisa empat partai membentuk dua fraksi gabungan. Kedelapan fraksi tersebut antara lain:

  • Fraksi PDI Perjuangan (15 orang);
  • Fraksi Golkar (9 orang);
  • Fraksi Demokrat (9 orang);
  • Fraksi Gerindra (7 orang);
  • Fraksi PAN (6 orang);
  • Fraksi NasDem (5 orang);
  • Fraksi Nurani Keadilan (8 orang [3 dari Partai Hanura, 2 dari PKPI, dan 2 dari PKB]); dan
  • Fraksi Persatuan Keadilan Sejahtera (6 orang [4 dari PPP dan 2 dari PKS]).

Jumlah fraksi ini berkurang satu jika dibandingkan periode sebelumnya. Terdapat empat fraksi pada periode lalu yang tetap mempertahankan eksistensinya pada periode ini, yakni Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Golkar, Fraksi Demokrat, dan Fraksi PAN.

Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat (foto pada 7 Maret 2014)

Senin, 01 Desember 2014

Pimpinan dan Fraksi DPRD Kota Pontianak 2014–2019

Pimpinan
Pimpinan DPRD Kota Pontianak Periode 2014–2019
Entah apa yang menghambat DPRD Kota Pontianak untuk menentukan pimpinan definitifnya. Setelah lebih dari dua bulan atau tepatnya 74 hari sejak dilantik pada 15 September 2014 lalu, akhirnya DPRD Kota Pontianak memiliki pimpinan yang definitif yang terdiri atas satu orang ketua dan tiga orang wakil ketua. Satarudin dari PDI Perjuangan, mewakili dapil Kota Pontianak 4 (Pontianak Timur) yang sebelumnya dipercaya sebagai ketua sementara, resmi dilantik sebagai Ketua DPRD Kota Pontianak yang definitif untuk periode 2014–2019 pada 28 November 2014.

Firdaus Zar'in, S.Pd., M.Si. dari Partai NasDem, mewakili dapil Kota Pontianak 2 (Pontianak Barat) yang sebelumnya adalah wakil ketua sementara turut dilantik sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak. Pada saat yang bersamaan, dilantik pula dua orang wakil ketua lainnya, yakni Heri Mustamin, S.H. dari Partai Golkar dan Alwy Almuthahar, S.Sos., M.Si. dari PAN. Keduanya sama-sama mewakili dapil Kota Pontianak 4.

Dilihat dari representasi partai politik, keempat unsur pimpinan tersebut cukup bervariasi karena mewakili empat partai terbesar di DPRD. Namun jika dilihat dari representasi konstituensi, pimpinan DPRD didominasi wakil dari dapil Kota Pontianak 4 (Pontianak Timur). Hanya satu dari Kota Pontianak 2 (Pontianak Kota). Padahal, dapil Kota Pontianak 4 merupakan dapil dengan representasi terendah, yakni hanya enam kursi. Hal ini tentu menjadi kebanggaan sendiri bagi warga Kecamatan Pontianak Timur.

Fraksi

Jika dibandingkan periode sebelumnya, representasi partai politik di DPRD Kota Pontianak berkurang, dari 15 partai politik menjadi 11 partai politik. Namun hal ini tak berbanding lurus dengan jumlah fraksi. Jumlah fraksi justru bertambah satu, menjadi sembilan fraksi. Perubahan tersebut dikarenakan adanya tiga partai yang berhasil meraih kursi signifikan sehingga dapat membentuk fraksi sendiri, yakni Partai NasDem, Partai Gerindra, dan PKB; dua fraksi yang berganti nama karena perubahaan susunan partai komponennya, yakni Demokrat dan Hanura; serta dua fraksi yang dihapus dikarenakan partainya kehilangan kursi, yakni PKS dan Fraksi Reformasi (gabungan lima partai).

Sembilan fraksi di periode 2014–2019 terdiri dari tujuh fraksi yang berunsurkan satu partai politik dan dua fraksi yang merupakan gabungan partai politik. Kesembilan fraksi tersebut antara lain:

  • Fraksi PDI-P (6 orang),
  • Fraksi NasDem (6 orang),
  • Fraksi Golkar (5 orang),
  • Fraksi PAN (5 orang),
  • Fraksi PKB (5 orang),
  • Fraksi Gerindra (4 orang),
  • Fraksi PPP (4 orang),
  • Fraksi Kebangkitan Hati Nurani (5 orang [tiga dari Partai Hanura dan dua dari PBB]), dan
  • Fraksi Demokrat Perubahan (5 orang [tiga dari Partai Demokrat dan dua dari PKPI]).

Kamis, 27 November 2014

Air Mancur di Kota Pontianak yang Baru (Tapi Lama)

Foto pada 6 November 2014
Setelah belasan tahun terbengkalai, akhirnya air mancur ini kembali berfungsi menghiasi wajah Kota Pontianak tercinta. Tidak kuketahui jelas, kapan air mancur ini dibangun. Namun, saya masih ingat ketika masih kecil (sekitar awal 1990-an), air mancur ini berfungsi setiap pagi hingga malam. Bahkan dihiasi lampu pada malam hari. Sekitar pertengahan 1990-an, air mancur ini pun tidak pernah berfungsi lagi. Dan entah apa alasannya, selama bertahun-tahun, tidak pernah ada upaya yang terlihat untuk memfungsikan kembali air mancur ini.

Foto pada 4 November 2013
Tidak seperti sekarang, air mancur ini dulu adalah bundaran yang menghubungkan Jl. Pattimura, Jl. Jend. Urip, Jl. Zainuddin, dan Jl. Jend. Sudirman. Setelah Mal Matahari dibuka pada tahun 2001, untuk memperlancar arus lalu lintas, kawasan bundaran pun dimodifikasi hingga berbentuk segitiga seperti sekarang. Namun modifikasi tersebut tidak dibarengi dengan pemfungsian kembali air mancur. Kolam air mancur pun dibiarkan apa adanya. Jika dilihat dari sisi positifnya, setidaknya air mancur tersebut tidak dihancurkan dengan harapan nantinya akan difungsikan kembali.

Foto pada 6 November 2014
Foto pada 6 November 2014
Akhirnya, pada Oktober 2014, air mancur ini akhirnya berfungsi kembali. Selain dicat ulang, bagian atasnya ditambah hiasan untuk mempercantik penampakannya, sekaligus agar kelihatan lebih tinggi. Namun, ada beberapa kekurangan jika dibandingkan dengan kondisi awal 1990-an silam. Pertama, volume pancuran airnya tidak sederas dulu. Kedua, belum ada lampu hias di malam hari, sehingga pada malam hari, air mancurnya tampak kurang mencolok. Seingat saya dulu, dari bagian tengahnya, ada lampu yang menambah kecantikannya di malam hari.

Foto pada 7 November 2014

Foto pada 7 November 2014
Meskipun begitu, upaya revitalisasi air mancur ini sangat patut diapresiasi. Sebagai warga Kota Pontianak, Saya berterima kasih kepada siapapun yang turut berkontribusi dalam revitalisasi air mancur ini. Semoga air mancur ini ke depannya bisa terus dipercantik dengan penambahan lampu hias atau penataan kawasan sekitarnya, dan yang terpenting, terus dijaga dan dirawat agar menjadi salah satu landmark Kota Pontianak. Semoga tidak ada tangan-tangan jahil yang merusak keindahannya, termasuk mencuri pompa dan pipanya.

Foto pada 7 November 2014

Rabu, 26 November 2014

Klaim Ganda Takhta Sultan Pontianak

Ternyata tidak hanya di Palembang, Surakarta, dan Ternate. Di Kesultanan Pontianak pun kini menghadapi klaim ganda pewaris takhta kesultanan. Selain membingungkan warga Pontianak, klaim ganda ini juga membelah Dinasti Alkadrie, dinasti yang telah memimpin Kesultanan Pontianak sejak 1771, sekaligus juga mengundang keprihatian dari para pecinta dan pemerhati Kesultanan Pontianak.

Sultan Toto Thaha
Sultan Syarif Toto Thaha ibnu Almarhum Sultan Syarif Thaha Alkadrie
Sultan Pontianak ke-X
Klaim ganda ini dimulai pada 31 Oktober 2014, ketika Syarif Toto Thaha Alkadrie diumumkan sebagai Sultan ke-X. Lima hari kemudian, pada 5 November 2014, Sultan Toto Thaha memperkenalkan dirinya sebagai Sultan dengan berjalan kaki menuju Istana Kadriah dengan atribut Kesultanan. Upacara penobatan pun direncanakan akan dilangsungkan dalam waktu dekat dengan mengundang seluruh Raja/Sultan se-Kalbar dan anggota Forum Kesultanan Nusantara.

H. Sy. Toto Thaha Alkadrie, S.Sos. lahir di Pontianak pada 29 Agustus 1952 pada Pemilu 2014 lalu pernah menjadi calon anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari Partai Demokrat untuk dapil Kalbar 1 (Kota Pontianak). Ia memperoleh 2.063 suara, namun tidak terpilih. Berdasarkan daftar riwayat hidupnya, ia adalah Ketua Majelis Musyawarah Istana Kadriah sejak 1999 dan Ketua Pemangku Adat Majelis Adat Budaya Melayu Kota Pontianak sejak 2002. Ia juga pernah menjadi Anggota DPRD Kota Pontianak dari tahun 1992 hingga 1999.

Sultan Toto Thaha merupakan putra dari Sultan Thaha Alkadrie. Dari garis ibunya yang bernama Ratu Anom Negara Syarifah Fatimah Alkadrie, Sultan Thaha merupakan cucu dari Sultan Mohamad. Dari garis ayahnya yang bernama Syarif Usman Alkadrie, Sultan Thaha merupakan cicit dari Sultan Yusuf (sultan ke-V) dari anak lelakinya yang bernama Syarif Machmud Alkadrie. Hingga kini, kedudukan Sultan Thaha sebagai sultan atau bukan masih diperdebatkan.

Pada 13 November 2011, Sultan Toto Thaha mendapat dukungan dari Dewan Nasional Angkatan 45 Republik Indonesia serta dari Forum Komunikasi Pemuda Melayu Kota Pontianak. Acara yang berlangsung di Istana Kadriah itu dihadiri pula oleh mantan Walikota Pontianak Buchary Abdurrahman.

Sultan Abubakar

Sultan Syarif Abubakar ibnu Almarhum Syarif Mahmud ibnu Almarhum Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
Sultan Pontianak ke-VIII
Menghadapi klaim itu, pihak Sultan Abubakar tinggal diam. Pada 6 November 2014, Yayasan Sultan Hamid II secara terbuka menyatakan tetap mengakui Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan ke-VIII. Pada 18 November 2014, Sultan Abubakar menyatakan bahwa dirinya tetap bertakhta sebagai Sultan ke-VIII, yang secara tidak langsung menolak klaim Sultan Syarif Toto Thaha Alkadrie. Di hari yang sama, Baginda Sultan juga mengeluarkan titah yang berbunyi sebagai berikut:
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Saya yang berada di atas Takhta Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abubakar Alkadrie bin Syarif Mahmud Alkadrie bin Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Sultan Kadriah Pontianak ke-VIII menyerukan dan menyampaikan titah:
Atas asma Allah Subhanallah wa Ta'ala dan Muhammad Rasulullah Shallahualaihi Wa Sallam, kepada seluruh keluarga besar Alkadrie yang berada di dalam wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya maupun di perantauan, seluruh pecinta dan pemerhati Kesultanan Kadriah Pontianak, marilah kita berpikir jernih, bermusyawarah dan bermufakat menyandarkan segala pemikiran kepada Alquran dan sunnah; merapatkan barisan dan berjabatan tangan di dalam tali ikatan ukhuwah yang penuh dengan semangat kebersamaaan, perdamaian, kasih sayang, dan kekeluargaan; menegakkan dan tunduk pada hukum syariat sebenar-benarnya dari dunia hingga ke akhiran. Alhamdulillah Rabbilalamin.
Syarif Abubakar Alkadrie, lahir di Pontianak pada tanggal 26 Juli 1944, dinobatkan sebagai Sultan Pontianak ke-VIII setelah hampir 26 tahun, takhta Pontianak kosong setelah kemangkatan Sultan Hamid II pada tahun 1978. Baginda dinobatkan sebagai Sultan pada Januari 2004, setelah sebelumnya mendapat restu dari Ratu Perbu Wijaya Syarifah Khadijah Alkadrie, putri dari Sultan Mohamad, yang pada saat itu merupakan anggota keluarga Alkadrie yang tertua, yang berumur lebih dari 100 tahun.

Sultan Abubakar merupakan cucu dari Sultan Mohamad dari anak lelakinya, Pangeran Agung Syarif Mahmud Alkadrie. Syarif Mahmud sendiri adalah adik kandung dari Sultan Hamid II. Sultan Abubakar dinobatkan sebagai Sultan atas kesepakatan bersama antara para pewaris Sultan Mohamad dikarenakan keengganan putra dari Sultan Hamid II, yakni Syarif Yusuf alias Max Nico Alkadrie yang kini berkewarganegaraan Belanda untuk dinobatkan sebagai Sultan Pontianak.

Dasar Klaim

Silsilah Sultan Pontianak

Bagi pihak Sultan Toto Thaha, pengangkatan sultan baru didasarkan atas beberapa hal. Pertama, pada rapat besar Zichiryo Hyogikai (Dewan Kerajaan) pada 29 Agustus 1945 yang mengangkat Syarif Thaha Alkadrie sebagai Sultan ke-VII, menggantikan Sultan Mohamad yang wafat dibunuh tentara Jepang. Dua bulan kemudian, Sultan Thaha kemudian secara sukarela berundur dan menyerahkan takhta kepada Sultan Hamid II sebagai Sultan ke-VIII.

Dasar berikutnya adalah Surat Keputusan Bertiga tertanggal 10 Desember 2002 yang menetapkan Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan Pontianak ke-IX yang bersifat sementara, untuk masa 3 tahun (2002–2005) sehingga sejak 10 Desember 2005, takhta Kesultanan Pontianak kembali kosong secara otomatis. Oleh karena itu, dianggap perlu untuk segera mengangkat sultan baru yang definitif. Akhirnya, Syarif Toto Thaha Alkadrie, putra dari Sultan Thaha akhirnya dianggap yang paling berhak menduduki takhta kesultanan sebagai Sultan ke-X.

Namun bagi pihak Sultan Abubakar, dialah pewaris yang sah sesuai Mahkamah Syariah Pontianak (sekarang bernama Pengadilan Agama) melalui Ketetapan Nomor 154/1971 dan Nomor 118 Tahun 1978, serta berdasar hukum Syariat Islam. Kemudian, Zichiryo Hyogikai (Dewan Kerajaan) yang menjadi dasar pesaingnya hanyalah bentukan tentara Jepang yang telah membantai banyak Keluarga Alkadrie. Dengan demikian, tidak ada Sultan Thaha sebagai Sultan ke-VII. Sultan Hamid II adalah Sultan ke-VII dan Sultan Abubakar adalah Sultan ke-VIII, bukan ke-IX. Baginda juga menambahkan, bahwa rapat keluarga besar yang mengangkat sultan baru itu tidak pernah ada. Penobatan dirinya sebagai Sultan pun telah berdasarkan atas kesepakatan bersama di antara para pewaris Sultan Mohamad, yang kemudian dikukuhkan dengan restu dari Ratu Anom Negara.

Pendapat Pribadi

Masing-masing pihak tentu memiliki argumen dan pembenarannya masing-masing. Menurutku pribadi sebagai warga jelata di Kota Pontianak, terlepas dari siapa Sultan yang sah dan siapa Sultan "penyusup", sengketa takhta kesultanan seharusnya tidak terjadi. Sebaiknya kedua pihak yang mengklaim sebagai Sultan itu saling bertemu untuk memusyawarahkannya. Sebagai seorang raja, sudah sepatutnya memberi contoh moral yang baik bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya. Jikalau perlu, semoga ada pihak ketiga yang bersedia memfasilitasi dan mempertemukan kedua belah pihak. Semoga sengketa takhta Kesultanan Pontianak ini segera berakhir dan tidak berlarut-larut.

Daulat Tuanku.

Selasa, 11 November 2014

Pahlawan Nasional 2014

Pahlawan Nasional 2014 (kiri ke kanan: Djamin Ginting, Soekarni Kartodiwirjo, Mohamad Mangoendiprodjo, dan Abdul Wahab Hasbullah)

Sebagai bagian dari peringata Hari Pahlawan 2014, empat orang tokoh nasional dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo, antara lain:
  1. Letjen Djamin Ginting, lahir di Karo pada 12 Januari 1921 merupakan tokoh militer asal Sumatera Utara yang turut berpartisipasi menumpas pemberontakan DI/TII di Aceh dan pemberontakan Nainggolan di Medan. Ia wafat di Ottawa pada 23 Oktober 1974 ketika bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kanada dan kemudian dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
  2. Soekarni Kartodiwirjo, lahir di Blitar pada 14 Juli 1916, tokoh pergerakan kemerdekaan asal Jawa Timur yang dikenal sebagai pemimpin pergerakan pemuda yang mendesak Ir. Soekarno untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Di era Soekarno, ia sempat bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Cina. Kemudian di era Orde Baru, ia dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung hingga wafat pada 7 Mei 1971 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
  3. Mayjen H. R. Mohamad Mangoendiprodjo, tokoh pejuang asal Jawa Tengah yang turut serta dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Ia kemudian menjabat sebagai Bupati Ponorogo, kemudian Residen Lampung hingga wafat pada 13 Desember 1988 dan dimakamkan di TMP Bandar Lampung.
  4. K.H. Abdul Wahab Hasbullah, tokoh agama asal Jawa Timur dan merupakan salah satu tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Ia dikenal dengan ajarannya yang menekankan pada kebebasan dalam keberagaman. Ia lahir di Jombang pada 31 Maret 1888 dan wafat di Jombang pada 29 Desember 1971 dan dimakamkan di Tambakberas, Jombang.
Keempat tokoh tersebut juga menjadi Pahlawan Nasional pertama yang dianugerahi oleh Presiden Joko Widodo. Dengan dianugerahkannya empat pahlawan baru, jumlah Pahlawan Nasional Indonesia kini bertambah menjadi 163 orang. Berikut daftar lengkap 163 Pahlawan Nasional Indonesia:

Pahlawan Nasional Indonesia

Senin, 10 November 2014

Hari Pahlawan – Kota Pontianak

Hari ini adalah Hari Pahlawan, hari untuk mengenang jasa-jasa pahlawan dan pejuang yang telah gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hari Pahlawan umumnya diperingati dengan ziarah ke taman makam pahlawan. Namun, kegiatan ziarah sulit dilakukan bagi warga Kota Pontianak karena ketiadaan taman makam pahlawan di Kota Khatulistiwa ini. Apakah ini berarti juga ketiadaan kisah perjuangan di Kota Pontianak? Tentu saja tidak. Meski tanpa taman makam pahlawan, terdapat beberapa tempat menarik (setidaknya menurutku pribadi) di Kota Pontianak yang dapat membantu kita mengenang perjuangan para pahlawan kita. Berikut adalah tempat-tempat tersebut.


Tugu Pancasila

Tampak depan Tugu Pancasila (15 September 2013)
Tampak belakang Tugu Pancasila (6 November 2013)
Tugu Pancasila terletak di kawasan bundaran Pelindo, antara Jl. Rahadi Usman dengan Jl. Pak Kasih. Secara administratif, terletak di Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota. Ciri khas utama tugu berwarna merah-putih adalah lambang negara Garuda Pancasila berukuran besar di sisi depannya. Sedangkan sisi belakangnya terdapat lambang Kota Pontianak dengan tulisan "PADAMU NEGERI KAMI MENGABDI". Dari jauh, tugu ini kurang terlihat jelas karena tertutupi pohon pinang yang tinggi.

Patok lokasi Tugu Korban Agresi Jepang (15 September 2013)
Sebelum dibangun Tugu Pancasila, dahulu terdapat Tugu Korban Agresi Jepang untuk mengenang korban pembantaian oleh tentara Jepang. Tugu tersebut kemudian dirobohkan dan diganti tugu yang ada sekarang. Lokasi tugu tersebut kini dibangun patok yang berjarak kira-kira 30 meter di depan Tugu Pancasila.

Jika dilihat dari bentuk dan ciri-cirinya nya, sepertinya tugu ini awalnya ditujukan sebagai cenotaph. Cenotaph alias nisan kosong adalah monumen yang dibangun untuk mengenang para pejuang yang telah gugur, yang kuburannya tersebar di berbagai daerah, atau yang keberadaan jenazahnya tidak diketahui. Karena Kota Pontianak tidak memiliki taman makam pahlawan, maka sudah selayaknya tugu ini difungsikan untuk mewakili keberadaan taman makam pahlawan.


Monumen Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat

Sisi depan monumen (4 November 2013)

Sisi belakang monumen (4 November 2013)
Salah satu relief di monumen (4 November 2014)
Monumen ini terletak di Jl. R.A. Kartini, Kel. Darat Sekip, Kec. Pontianak Kota, tepatnya di salah satu dinding Stadion Keboen Sajoek, di belakang Mal Matahari. Monumen ini berisikan 20 relief yang menceritakan sejarah Kalimantan Barat, dari zaman kesultanan hingga era mempertahankan kemerdekaan. Monumen ini memiliki dua sisi. Sisi belakang banyak mengisahkan sejarah kesultanan. Sisi ini mudah dicapai karena menghadap ke Jl. R.A. Kartini. Sisi depannya lebih banyak mengisahkan kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Sisi depan ini sebenarnya mudah dicapai melalui pintu samping stadion. Namun karena pintu ini seringkali digembok, untuk menuju sisi depan, kita harus memutar dahulu sejauh kurang lebih 75 meter dan masuk melalui pintu utama stadion di Jl. A.R. Hakim. Mengunjungi monumen ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai sejarah lokal serta menambah kebanggaan kita atas perjuangan para pendahulu kita.


Monumen Sebelas Digulis Kalimantan Barat

Monumen Sebelas Digulis pada malam hari (6 November 2013)
Monumen Sebelas Digulis pada pagi hari (22 Desember 2013)
Prasasti peresminan Monumen Sebelas Digulis (22 Desember 2013)
Monumen ini terletak di Bundaran Universitas Tanjungpura di Jl. Jend. A. Yani, Kel. Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara. Monumen ini berupa sebelas tugu berbentuk bambu runcing berwarna kuning. Monumen ini diresmikan tepat di Hari Pahlawan pada 10 November 1987 oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu Mayjen TNI (Purn.) H. Soedjiman. Monumen ini dibangun untuk memperingati 11 tokoh pergerakan asal Kalimantan Barat yang dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digoel di Papua. Berbeda dengan dua monumen sebelumnya, monumen ini tampak cukup terawat. Apalagi sejak 2013 lalu, dibangun air mancur di sekitar monumen ini, yang sudah tentu menambah keindahan monumen. Selain sebagai sarana peringatan sejarah, mengunjungi monumen ini juga bisa sekaligus sebagai sarana rekreasi.


Jl. Pahlawan

Plang nama Jl. Pahlawan (10 November 2014)
Jl. Pahlawan (10 November 2014)
Tempat terakhir ini sebenarnya tidak memiliki nilai sejarah atau peringatan tertentu. Namun yang membuatku tertarik hanya karena nama jalannya. Pemberian nama Jl. Pahlawan tentu bermaksud sebagai penghargaan jasa para pahlawan secara umum. Jadi, tidak ada salahnya jika di Hari Pahlawan, kita berjalan melintasi Jl. Pahlawan. Sekurang-kurangnya untuk mengetahui keberadaan jalan yang terletak di Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan ini. Jalan sepanjang 325 meter ini merupakan salah satu kawasan komersial di Kota Pontianak. Dapat dilihat dengan banyaknya ruko di sepanjang jalan ini. Di ujung jalan ini terdapat Pasar Flamboyan, pasar tradisional terbesar di Kota Pontianak.


Itulah beberapa tempat di Kota Pontianak yang tidak ada salahnya untuk diketahui dalam rangka peringatan Hari Pahlawan. Jikalaupun kita tidak memiliki waktu karena banyaknya kegiatan, sekurang-kurangnya kibarkanlah Sang Merah Putih di depan rumah kita masing-masing selama sehari penuh pada tanggal 10 November ini. Sudahkah Anda mengibarkannya di Hari Pahlawan ini?

Selamat Memperingati Hari Pahlawan
"Pahlawanku Idolaku"

Rabu, 25 Juni 2014

Taman Bank Mandiri

Taman Bank Mandiri, tampak dari depan (25 Juni 2014)
Pohon beringin, tampak belakang
(16 Juni 2014)
Di persimpangan antara Jl. Tanjungpura dengan Jl. Gst. Ngurah Rai, tepatnya di antara Bank Kalbar dan Bank Mandiri, terdapat sebidang taman kecil berbentuk segitiga. Luasnya kurang lebih hanya 200 m². Secara administratif, lokasinya berada di Kel. Darat Sekip, Kec. Pontianak Kota. Bagi warga pada umumnya, memang tidak ada yang istimewa dari taman ini, selain kecil, tidak ada fasilitas untuk bersantai, juga kesan yang kurang terawat.
Tugu (25 Juni 2014)

Namun bagi saya, saya melihat ada dua hal unik di taman ini. Pertama adalah pohon beringin yang masih hidup lumayan rindang. Di Kota Pontianak, terutama di kawasan sepanjang Jl. Tanjungpura, semakin sulit ditemui pohon rindang seperti itu. Kedua adalah sebuah tugu yang berdiri di tengah-tengah taman, yang hingga kini tak kuketahui itu sebenarnya tugu apa. Bahkan bentuk tugunya pun tidak jelas menyerupai apakah. Tak kuketahui apakah ada sejarah di balik tugu itu ataukah dibangun hanya sekedar untuk hiasan.

Papan yang tertutup rerumputan (25 Juni 2014)
Papan taman (25 Juni 2014)
Jika melihat lebih saksama, terdapat sebuah papan yang tertutup rerumputan. Di situ tertulis "TAMAN INI DIKELOLA OLEH BANK MANDIRI". Oleh karena itulah saya menamainya dengan Taman Bank Mandiri. Sudah tentu ini belum tentu nama sebenarnya.

Tampak tugu dari belakang
(16 Juni 2014)
Jika saya mengingat kembali masa kecilku, di awal tahun 1990-an, terdapat kolam air mancur di taman kecil ini. Saya lupa pada tahun berapa, kolamnya ditutup, dan dibangun tugu sebagai gantinya. Menurutku, alangkah indahnya jika kembali dibangun air mancur seperti dulu tanpa menghilangkan tugunya juga. Jika dipercantik, tugunya pun bisa ikut menjadi hiasan bersama air mancur.

Apakah Pemkot Pontianak ataukah Bank Mandiri yang bertanggung jawab atas taman itu, ada baiknya jika keduanya memiliki kemauan untuk mempercantik taman itu, yang secara tidak langsung juga ikut mempercantik penampakan wajah Kota Pontianak. Apalagi terletak di kawasan yang ramai lalu lintas. Jika ditata dengan indah, keindahannya tentu dapat sedikit menyejukkan mata para pengendara yang jenuh dengan panas dan kemacetan.

Tampak tugu dari samping (25 Juni 2014)



Rabu, 18 Juni 2014

Visi-Misi Capres-Cawapres 2014

Pemilu Presiden tinggal menghitung hari lagi. Berbeda dengan pemilu ataupun pemilukada sebelumnya yang mayoritas diikuti banyak calon, Pilpres kali ini hanya diikuti 2 pasangan calon. Pilpres ini pun semakin seru karena dari berbagai survei bisa disimpulkan bahwa kedua calon ini memiliki peluang yang sama kuat dikarenakan masih tingginya pemilih yang belum menentukan pilihan.

Untuk membantu menentukan pilihan, ada baiknya kita melihat profil, visi, misi, serta program yang ditawarkan masing-masing calon. Pasangan H. Prabowo Subianto dan Ir. H. M. Hatta Rajasa menawarkan visi "membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, serta bermartabat", manakala pasangan Ir. H. Joko Widodo dan Drs. H. M. Jusuf Kalla menawarkan visi "terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong". Lebih lengkapnya, bisa dilihat di gambar di bawah ini.


Apapun jati diri mereka, mereka adalah putra-putra terbaik bangsa yang rela mendedikasikan dirinya untuk Indonesia. Apapun misi dan program mereka, pada dasarnya mereka ingin berbuat yang terbaik demi Indonesia. Dan apapun visi mereka, mereka sama dengan kita, menginginkan Indonesia yang lebih baik dari sebelumnya.

Marilah kita sebagai warga negara, turut serta melaksanakan kewajiban kita untuk memilih pemimpin kita mendatang, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Gunakanlah hak suara kita pada 9 Juli 2014 mendatang. Mari kita wujudkan pemilu yang aman dan damai. Siapapun yang menang, dialah pilihan rakyat yang harus diterima segenap warga, dialah putra terbaik bangsa yang akan menakhkodai negara kita untuk lima tahun ke depan.

Tentukan pilihanmu untuk bangsa Indonesia. Berikan suaramu untuk masa depan kita. Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Ayo memilih untuk Indonesia. 

Senin, 16 Juni 2014

Tugu UKS Kelurahan BMD

Tugu UKS Kelurahan BMD
(foto pada 9 Juni 2014)
Di tepi Jl. Letjend. Suprapto, tepatnya di depan SD Negeri 20 Pontianak Selatan, terdapat sebuah tugu kecil yang kurang mencolok. Tugu tersebut tampak kusam, tak terawat, bahkan tak menjadi perhatian sedikitpun meskipun banyak yang melintasinya.

Ketika diperhatikan di bagian bawahnya, tugu setinggi kurang lebih dua meter itu bernama Tugu UKS Kelurahan BMD. Di bagian atasnya, bisa diketahui bahwa tugu tersebut merupakan persembahan dari Tim Pembina UKS Kec. Pontianak Selatan. UKS sendiri merupakan singkatan dari Usaha Kesehatan Sekolah, merupakan suatu kegiatan yang diwajibkan di setiap sekolah dalam rangka pelayanan kesehatan bagi siswa-siswi sekolah.

Pada tugu tersebut terdapat tulisah seperti semboyan sebagai berikut:

  • BERSIH LINGKUNGANKU
  • NYAMAN BELAJARKU
  • SUKSES PRESTASIKU
  • TERCAPAI CITA CITAKU

Tidak tahu siapa yang bertanggung jawab dalam hal perawatan tugu ini. Namun ada baiknya tugu ini sentiasa terawat dan diperindah, tidak hanya kan mempercantik lingkungan sekolah, namun juga Kota Pontianak secara umum.

Sabtu, 31 Mei 2014

Tugu Dinamika Menuju Puncak

Foto pada 12 September 2013

Foto pada 23 Maret 2012
Di persimpangan antara Jl. HOS Cokroaminoto dengan Jl. Wolter Monginsidi, yang secara administratif berada di Kel. Darat Sekip, Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak, tepatnya di depan Pasar Mawar, berdiri sebuah tugu yang bentuknya cukup unik. Tugu tersebut berbentuk spiral yang didominasi warna hijau dengan puncak berupa lingkaran berwarna biru serta pondasi tugu berwarna putih. Tinggi tugu tersebut sekitar 6 meter.

Meskipun berbentuk unik, penampakan tugu ini tidaklah begitu mencolok. Baliho yang sangat besar dan sangat mencolok di dekatnya seolah-olah menutupi eksistensi tugu ini. Jadi, jangankan mengenalnya, mungkin banyak warga yang tidak menyadari keberadaan tugu ini. Ditambah, terdapat tempat pembuangan sampah di belakangnya yang berbau cukup tajam sehingga membuat warga enggan melintas di dekatnya.

Foto pada 12 September 2013
Setelah mendekati tugu tersebut, akan terlihat sebuah prasasti di bagian pondasinya dengan tulisan yang mulai samar. Maka baru kuketahui bahwa tugu tersebut bernama Tugu Dinamika Menuju Puncak yang melambangkan pergerakan pembangunan kota Pontianak serta dibagun sekitar tahun 1987. Secara lengkap, tulisanya seperti berikut:

 TUGU DINAMIKA MENUJU PUNCAK

   MELAMBANGKAN

   WARGA KOTA PONTIANAK
   YANG TERUS BERGERAK
   MEBANGUN KOTANYA
   MENUJU KOTA IDAMAN

     PONTIANAK AKHIR TH 1987


Foto pada 3 April 2014
Setidaknya, informasi itu saja yang kuperoleh. Tidak kutemukan informasi yang lebih detail mengenai sejarah tugu itu. Hal yang masih kuingat hanyalah, ketika awal dekade 1990-an, sebelum dijadikan taman dan tempat sampah, sekitar kawasan tugu tersebut adalah kawasan tempat parkir kendaraan untuk pengunjung Pasar Mawar.

Saya pribadi hanya berharap agar Pemkot Pontianak bisa menjadikan eksistensi tugu ini sebagai salah satu markah tanah yang menghiasi wajah Kota Pontianak, apalagi melihat letaknya di persimpangan jalan; misalnya dengan membongkar baliho, memindahkan tempat pembuangan sampah, serta diberi pencahayaan pada malam hari agar tampak mencolok. Jikalau perlu, diberikan keterangan lebih detail mengenai sejarah dan simbolisasi pada tugu tersebut.

Akan sangat disayangkan tentunya jika simbol pembangunan kota idaman ini justru tidak menjadi idaman warga kotanya sendiri.

Jumat, 09 Mei 2014

Pemakaman Muslim Jl. Meliau, Kota Pontianak

Di persimpangan Jl. H. Abbas dan Jl. Meliau yang secara administratif berada di Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan, Kota Pontianak, terdapat lahan pemakaman Muslim yang sering kulewati sedari kecil. Namun, selama bertahun-tahun, pemakaman itu kulewati begitu saja. Hingga pada suatu hari, saya menjadi agak tertarik karena dari jauh tampah sebuah makam berwarna kuning dengan hiasan mahkota di atasnya. Selain itu nampak juga makam berwarna perak yang cukup terawat. Meski pada awalnya saya merasa takut memasuki kawasan pemakaman, rasa penasaran saya yang memuncak akhirnya menutupi rasa takut saya. Pada 2 Mei 2014, saya pun akhirnya memberanikan diri masuk dan mengambil beberapa gambar.

Sisi utara pemakaman
Secara umum, meskipun terletak di kompleks pemukiman penduduk, kawasan pemakaman ini tampak kurang begitu terawat. Tanahnya banyak ditumbuhi rerumputan serta becek. Hanya sedikit jalan setapak yang disemen. Saya pun mencoba berjalan menyusuri pemakaman dengan berhati-hati. Bukan karena takut air yang becek, namun takut kualat karena menginjak atau melangkahi makam orang lain.


Di bagian makam yang dibangun gubuk, terdapat belasan makam bernuansa warna perak. Makam di sini cukup terawat dibandingkan makam-makam lainnya. Di antara belasan makam itu, saya tertarik dengan makam di paling ujung dan paling besar. Di situ terdapat makam As-Sayyid Ahmad bin Husin Alkadrie yang wafat pada 21 Muharam 1324 H atau bersamaan 17 Maret 1906 M. Dari namanya, bisa disimpulkan bahwa ia masih kerabat Sultan Pontianak. Kemudian di sampingnya terdapat makam As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Alhinduan yang wafat pada 2 Rabiul-awal 1370 H (bersamaan 12 Desember 1950 M). Tidak kuketahui siapa kedua tokoh ini, namun dilihat dari tanggal wafatnya, bisa disimpulkan bahwa pemakaman ini merupakan kompleks pemakaman tua yang telah ada sejak zaman kesultanan.

Makam As-Sayyid Ahmad bin Husin Alkadrie (kedua dari kiri) dan
Makam As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Alhinduan (paling kanan)
Makam Pangeran Sri Sy. Abdul Fatah bin Sy. Hamid Alkadri
Kemudian, saya pun mendekati sebuah makam kurang terawat yang terletak di luar namun tak jauh dari gubuk itu. Yang membuat saya tertarik adalah warna kuningnya serta hiasan mahkota di atasnya. Setelah kuamati, makam itu adalah makam Pangeran Sri Sy. Abdul Fatah bin Sy. Hamid Alkadri yang wafat pada 30 Agustus 1990. Tidak kuketahui siapa beliau, namun yang jelas adalah kerabat dekat Sultan Pontianak karena bergelar Pangeran Sri.

Sisi selatan pemakaman
Keluar dari situ, terdapat sisi selatan yang dipisahkan oleh Jl. Meliau. Terdapat jalan yang disemen menuju gubuk lainnya. Saya pun tertarik untuk melihatnya. Saya pun semakin terkejut melihat banyak kerabat Alkadrie yang dimakamkan di situ. Umumnya, makamnya bernuansa kuning, bahkan ada beberapa yang dihiasi mahkota di atas makamnya, pertanda masih kerabat dekat Sultan. Di antaranya terdapat Pangeran Laksamana Sri Negara H. Syarif Machmud bin Sultan Sy. Yusuf Alqadrie. Jelas beliau adalah putra dari Sultan Pontianak ke-5.

Makam H. Syarif Machmud bin Sultan Sy. Yusuf Alqadrie (kiri atas)
Makam H. Syarif Husein bin H. Sy. Machmud Alqadrie (kanan atas)
Makam H. Sy. Machmudi bin H. Sy. Husein Alkadrie (kanan bawah)
Makam Pangeran Laksamana Sri Negara H. Syarif Machmud bin Sultan Sy. Yusuf Alqadrie (kiri)
Makam H. Syarif Husein bin H. Sy. Machmud Alqadrie (kanan)
Makam Syf. Seha binti Sy. Mahmud Al-Qadri
Tak jauh dari situ, yang lebih mencengangkan saya adalah makam Mas Ratoe Hadji Aminah binti Entjik Adjma'in. Gelar Mas Ratoe merupkan gelar bagi permaisuri di Kesultanan Pontianak. Dilihat dari tanggal wafatnya, 10 April 1930 M, bisa diperkirakan beliau merupakan permaisuri bagi Sultan ke-6. Sultan Syarif Mohamad Alkadrie.

Makam Mas Ratoe Hadji Aminah binti Entjik Adjma'in
Hal yang agak menjadi pertanyaan saya adalah mengapa tokoh sekelas permaisuri ataupun pangeran justru dimakamkan di pemakaman biasa yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk, atau istilah kasarnya adalah untuk rakyat jelata, padahal telah ada pemakaman khusus kerabat Kesultanan di Batu Layang, Pontianak Utara. Hingga kini, saya belum menemukan jawabannya.

Makam Mas Ratoe Hadji Aminah binti Entjik Adjma'in
Namun, menimbang terdapat makam tokoh-tokoh yang dihormati (yang mungkin telah dilupakan oleh generasi sekarang), termasuk beberapa makam yang berumur sudah sangat tua, bahkan nenek saya saja belum lahir, ada baiknya Pemerintah Kota Pontianak mengajak ahli-ahli sejarah untuk mempelajari sejarahnya untuk kemudian menjadi pertimbangan untuk menata kawasan seluas kurang lebih setengah hektar ini menjadi kawasan cagar budaya yang berpotensi sebagai wisata sejarah dan religi.